Senin, 29 September 2014

Essay ParlemenQ

Sabtu, 30 Mei 2009

SINERGITAS PARLEMEN DAN ORMAS, MENGAPA TIDAK?
(Ikhtiar Revitalisasi Peran Parlemen Untuk Mewujudkan Good Governance)
Oleh : Zaqia Nur Fajarini (UMM)

Prolog

Parlemen adalah lembaga legislatif maupun eksekutif yang ada di dalam Pemerintahan Indonesia dan memiliki fungsi Legislasi , pembuatan undang-undang , Pembuat anggaran, Mengontrol pelaksanaan pembangunan. Akan tetapi di era globalisasi ini telah nampak pergeseran bahkan “degradasi fungsi” parlemen berkedok mencari nafkah, ironisnya yang muncul bahkan kasus korupsi dan suap di parlemen sejak munculnya orde baru (Simamora, 2009). Sungguh ironis negeri ini, di tengah keterpurukan, keterbelakangan, dan kebodohan yang melanda negeri ini, elite kita disibukkan pengurasan kekayaan dan harta rakyat untuk kepentingan pribadi. Di manakah moralitas dan sensibilitas kekuasaan akan realitas politik yang kian terpuruk?

Kasus korupsi dan suap merupakan masalah yang “urgen” yang telah ada sejak masa orde baru dan telah mendarah daging sampai saat ini, mulai kasus dari bapak Soeharto senilai 1,4 triliun senilai US dolar 24,8 juta, korupsi di bidang pertamina, Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) 80,4 triliun, kasus Abdullah Puteh senilai 30 miliar, kasus Bapindo senilai 1,3 triliun, dan lain-lain. Berdasar pada data yang tercatat di Transparansi Internasional (TI), parlemen memang salah satu lembaga yang paling subur dengan tindakan korupsi. Sangat logis kiranya, parlemen sebagai sebuah lembaga memiliki kekuasaan dalam melakukan fungsi legislasi dan kontrol atas kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan lembaga eksekutif. Dalam era keterbukaan sejak reformasi bergulir, sudah senyatanya bahwa tidak ada lembaga yang sakral dan kebal hukum, termasuk lembaga setingkat parlemen. Sebuah keharusan digeledah guna mewujudkan sebuah sistem negara yang bebas dari tindak penyelewengan berupa korupsi, kolusi, dan transaksi kekuasaan.

Kondisi perkembangan sosial politik yang terjadi di Indonesia tidak bisa dipisahkan dari peran Organisasi Kemasyarakat (ormas). Menjamurnya jumlah Ormas menjadi salah satu faktor dalam memperkuat basis masyarakat untuk mengawal dan mengawasi segala kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah. Perubahan signifikan yang mendasari hal ini adalah agenda reformasi yang terjadi pada 1998. Sebagai perbandingan, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sebelum reformasi (1996) jumlah Ormas hanya sekitar 10.000 tetapi pasca bergulirnya reformasi (2000) jumlahnya melonjak sampai sekitar 70.000.

Tulisan ini akan mencoba memaparkan tentang sinergitas antara ormas dengan parlemen bukan hanya ”mimpi dan harapan”, namun menjadi suatu keniscayaan yang harus diarusutamakan sebagai upaya revitalisasi peran parlemen dalam mewujudkan Good Governance di Indonesia. Dengan demikian tulisan ini akan menggambarkan bahwa antara parlemen dan ormas adalah ”dua roda” penggerak demokrasi bangsa.

Sinergitas ”Dua Roda” dalam Mewujudkan Good Governance

Sebagai sebuah konsep baru yang semula diperkenalkan oleh lembaga-lembaga donor internasional, tata-pemerintahan yang baik (good governance) kini menjadi salah satu kata kunci dalam wacana untuk membenahi sistem administrasi publik dan pemerintahan di Indonesia. Upaya untuk menghubungkan tata-pemerintahan yang baik dengan pelayanan publik barangkali bukan merupakan hal yang baru. Namun keterkaitan antara konsep good-governance (tata-pemerintahan yang baik) dengan konsep public service (pelayanan publik) tentu sudah cukup jelas logikanya.

Laporan yang ditulis oleh Daniel Kaufman (2002) dari hasil survai di ratusan negara menunjukkan bahwa unsur-unsur tata-pemerintahan yang baik antara lain mencakup pemenuhan hak-hak politik warganegara, kemampuan negara untuk mengendalikan korupsi birokratis, membuat peraturan yang kondusif, dan yang tidak kalah pentingnya ialah kemampuan untuk menyelenggarakan pelayanan publik dengan sebaik-baiknya. Argumentasi lain yang membuktikan betapa pentingnya pelayanan publik ialah keterkaitannya dengan tingkat kesejahteraan rakyat.

Parlemen sebagai salah satu aspek Pemerintahan yang bertgas untuk melayani aspirasi rakyat Indonesia. Pasca jatuhnya rezim Orba, suara demokratisasi menjadi tuntutan yang tak tertawarkan sebagai antitesa sistem otoriter. Jika pada masa Orba yang terjadi adalah monovocal, artinya kesatuan sumber kuasa di tangan eksekutif. Parlemen hanya menjadi lembaga dalam kebisuan dan cengkeraman eksekutif belaka.Sebaliknya Orde reformasi, kekuasaan menjadi polyvocal, yaitu kekuasaan menjadi hak milik semua. Semua pihak berhak menyuarakan kepentingannya di mata publik.

Optimalisasi peran trio kuasa adalah tuntutan dari demokrasi sebagai pilar terwujudnya demokrasi yang sehat. Yang menyuguhkan check and balance dalam setiap kebijakan publik. Tetapi, sewindu lebih orde reformasi yang terjadi adalah pembusukan trio kekuasaan lewat perilaku korupsi dan suap dalam rahim ketiga lembaga kekuasaan. Akhirnya, yang terjadi bukanlah mekanisme check and balance, tapi sharing dan pembagian komisi atau uang transaksi dalam mengeluarkan kebijakan-kebijakan publik. Itulah yang dilakukan Al Amin Nasution. Singkatnya, tak ada legislasi di tingkat parlemen, tiadanya yudikasi di tingkat lembaga hukum, serta absennya eksekusi di tingkat eksekutif untuk kepentingan rakyat. Sebaliknya, yang tampak nyata hanyalah transaksi dan eksekusi untuk kepentingan komunal dan elite. Memang, terjadi komunikasi politik di antara ketiganya, tapi sebatas untuk mengabadikan kepentingan masing-masing. Untuk mengakhiri episode keterpurukan yang diakibatkan hilangnya kredibilitas dan akuntabilitas trio kekuasaan (eksekutif, legislatif, dan yudikatif), hendaknya bangsa ini menyadari akan kekeliruan laku dan perannya yang didasarkan pada keserakahan dan ketamakan sesaat atas nama diri.

Optimalisasi dan revitalisasi peran kelembagaan adalah sebuah keharusan bagi terbentuknya tatanan kenegaraan yang berkeadilan sosial. Jika tidak, apatisme publik akan menyelimuti hari-hari bangsa ini. Kerjasama antara ormas dan parlemen atau yang lebih dikenal dengan “dua roda” pemerintah sangat diperlukan untuk mewujudkan negara Indonesia yang demokratis dan Good Governance.

Dalam bukunya yang berjudul Soft Power: The Means to Success in World Politics (2004), Joseph SN Guru Besar Universitas Harvard berpendapat bahwa peran Ormas mempunyai kekuatan yang tidak boleh dianggap sebelah mata. Dia mencontohkan Greenpeace (lingkungan), Amnesty International (pelanggaran HAM), dan Transparency International (korupsi) sebagai lembaga yang bisa mempengaruhi politik kebijakan secara signifikan.

Perkembangan Ormas pasca 1990-an menurut Meuthia Ganie-Rochman dalam bukunya yang berjudul “An Uphill Struggle: Advocacy NGOs under Soeharto’s New Order (2002) secara terang-terangan telah mengubah dunia politik tradisional dari sekadar lembaga-lembaga politik formal dan tradisional menjadi berorientasi pada kekuatan masyarakat. Dalam kesimpulannya, Dia berpendapat bahwa strategi advokasi di Indonesia umumnya berkisar pada tiga hal, yaitu : (1) memilih pengadilan sebagai arena politik, (2) menargetkan pada perubahan peraturan/UU, (3) menggali dukungan advokasi internasional.

Sebagai bagian dari sektor ketiga, Ormas termasuk salah satu pilar menuju terciptanya Masyarakat Madani. Tujuan Ormas sebagai bagian dari pilar tersebut adalah : (1)Menjaga agar hak-hak masyarakat terlindungi, (2) Mempengaruhi kebijakan public, (3) Sebagai sarana cheks and balances pemerintah, (4) Mengawasi penyalahgunaan kewenangan sosial pemerintah (5) Mengembangkan SDM (6) Sarana berkomunikasi antar anggota masyarakat. Sangat nyata sekali bahwa peran ormas terhadap revitalisasi fungsi parlemen yang semakin mengalami degradasi di Indonesia ini sangat besar. Ormas dan gerakan pemuda di Indonesia sebagai Agen Of control dan Agen of change pemerintah yang senantiasa berani mengkritisi kebijakan Pemerintah. Apabila kedua aspek ini bersatu maka akan terwujud tatanan negara yang sesuai dengan harapan masyarakat Indonesia. Selain itu peran serta masyarakat untuk mendukung kinerja pemerintah melalui parlemen juga diharapkan.

Epilog

Uraian permasalahan telah kita lakukan. Walaupun masih terlalu singkat atau sederhana, pembahasan di atas harapannya telah membuka dan mendekatkan pemahaman kita tentang keniscayaan sinergitas antara parlemen dengan ormas-ormas di Indonesia bukan suatu hal yang mustahil. Akhirnya upaya-upaya tersebut diatas tidak akan mungkin dapat dilaksanakan bila kedua pihak yang telah disebutkan di atas tidak menyetujuinya atau tidak memiliki tekad dan itikad yang baik.

Pemerintah baik pusat maupun daerah dan ormas-ormas sudah saatnya memahami dan mengimplementasikan wacana tersebut. Bersamaan dengan upaya-upaya tersebut, sebaiknya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) juga memaksimalkan kinerja mereka untuk saling bekerjasama dalam mewujudkan Good Governance yang sesuai harapan masyarakat tanpa ada fihak-fihak tersisihkan. Semua akan berjalan lancar apabila semua fihak saling memberikan sumbangsih demi bangsa Indonesia.

Nb: Essay ini ditulis dalam rangka lomba essay parlemen, parlemen pemuda se-malang dan mendapatkan juara III se-malang

Rusa di Rumah Panggungku

 Siapa yang tidak tahu nama hewan di atas? ya, semua pasti bisa menebak nama hewan tersebut adalah Rusa. hewan mamalia pemamah biak (ruminan) ini banyak kita temukan di hutan dan biasa kita bisa menemukan secara langsung di kebun binatang-kebun binatang yang ada di Indonesia.


Tinggal di pedalaman bagiku ada beberapa  keunikan yang berkesan, salah satunya adalah liarnya hewan-hewan namun tidak mengganggu atau menyakiti masyarakat. hewan-hewan yang sering berseliweran di jalanan Sasari-Distrik Tomu-Kabupaten Teluk Bintuni-Papua Barat adalah anjing, babi, rusa, kambing, sapi, aves (burung).

Seluruh hewan tersebut sebagian memang bukan hewan yang buas dan sering kita temukan dimana-mana, namun ada satu hewan yang menurut saya jarang ditemukan di jalanan umum, yaitu rusa. di distrik Tomu memang masih dikelilingi hutan lindung yang asri sehingga hewan rusa begitu mudah kita temukan, padahal di daerah perkotaan dan Jawa hewan ini termasuk yang dilindungi dan hanya terdapat di kebun binatang saja.

Masyarakat mengkonsumsi daging rusa sebagai makanan utama untuk daging, karena selain harganya murah (Rp 30.000/kg) di sana iak ada daging sapi. Rasanya tidak kalah enak dengan daging sapi maupun kambing namun kolesterolnya juga perlu dipertimbangkan jika ingin mengkonsumsi daging rusa. daging rusa bisa diolah menjadi aneka kuliner seperti bakso, sate, gulai, konro, cotto makassar, steak dan lain-lain sebagai pengganti daging sapi.

Minggu, 28 September 2014

Aku dan kamu = kita ^_^

Memori yang tak Terlupakan





Setiap orang pasti mengetahui peristiwa apa yang terjadi pada gambar tersebut, Yap! Foto tersebut adalah peristiwa sakral dalam rangka menyempurnakan separoh dien antara aku Zaqia Nur Fajarini, S.Pd dengan lelaki yang telah aku kenal hampir 6 tahun Ifan Prasetya Yuda, S.Pd saat mengucapkan akad nikah dan berjanji untuk hidup bersama selama-lamanya mewujudkan keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah. setiap orang memiliki pengalaman menarik pastinya baik prewedding maupun ketika wedding, peristiwa yang dialami sekali seumur hidup ini memang wajib untuk di dokumentasikan dan direkam dalam memori forever, kejadian yang tidak akan terulang kembali biasanya acara ini drayakan begitu megahnya hingga ada yang mengeluarkan ratusan juta untuk persiapannya.
Pernikahanku benar-benar diluar rencana bahkan tidak sesuai rencana, terkendala transportasi karena kami LDR (Long Distance Relationship) selama setahun dan posisi calon suami di pedalaman Papua Barat. Tanggal 6 Juni 2012 dia melamarku tanpa kehadiran raganya, hanya ayahnya saja yang datang untuk memintaku menjadi istrinya, bisa dimaklumi  karena jauhnya keberadaan dan perlu merogoh rupiah yang tidak sedikit pula sedangkan calon suami masih menabung untuk persiapan pernikahan kami. Acara lamaran tetap berjalan dengan hikmad walaupun hanya jiwanya dan suaranya yang hadir, semoga semua lancar hingga pernikahan terlaksana meskipun kami belum bisa menentukan tepatnya kapan pernikahan kami. Akhirnya cincin dan anting 3 gram bertiliskan FAIZA menjadi pengikat hubungan kami serta pertanda keseriusan kami dalam berhubungan.
                                                                        ^_^
Perjalanan menuju pernikahan pastilah penuh tekanan, baik dari pihak internal maupun eksternal. Empat bulan berjalan setelah pertunangan kami, belum ada kepastian kami akan menikah yang jelas rencana akhir tahun 2012 atau awal tahun 2013 tapi belum tahu tanggal pastinya dan berbagai pihak selalu menanyakan kapan menikah sampai aku ingin kabur saja karena bosan, wajar saja manusia tidak ada puasnya bertanya dan ikut campur privacy orang lain, sampai akhirnya tanggal 20 November 2012 jam 21.15 WIB handphone lamaku berdering tanda sms masuk, aku buka kuncinya dan ternyata dari Dosenku, smsnya berbunyi: “Assalamu’alaikum Wr.Wb ada informasi penerimaan guru kontrak dengan gaji 5 juta dan penempatan di Teluk Bintuni-Papua Barat, bagi yang berminat silahkan mengirimkan lamaran paling lambat besok”. Kubalas sms tersebut dengan antusias dan terimakasih karena setitik cerah menuju pernikahan semakin nyata dan Teluk Bintuni daerah tempat calon suamiku mengajar dan ternyata suami langsung direkrut dari Papua sebagai guru kontrak yayasan.
Setelah mengikuti tes dan Alahmdulillah lulus administrasi hingga tes wawancara pada tanggan 25 November, ada 6 guru yang diterima dan kami dikumpulkan untuk koordinasi persiapan pemberangkatan. Pemberangkatan awalnya akhir Desember, kabar gembira bagi keluarga untuk mempersiapkan pernikahan kami yang rencananya tanggal 23 Desember setelah ujian semester I muridku. seminggu kemudian tepatnya tanggal 5 Desember 2012 aku dikejutkan dengan sms dari panitia penerimaan guru kontrak bahwa pemberangkatan ke Papua dimajukan tanggal 10 Desember 2012, bagi guru yang lain mungkin santai saja tapi bagiku yang mau menikah langsung shock membacanya dan otomatis semua rencana berubah 100% padahal kami sama sekali belum ada persiapan nikah. Aku hubungi calon suamiku ternyata memang tanggal 10 pemberangkatan. Akhirnya tanggal 5 Desember kami mantabkan untuk menikah tanggal 9 Desember 2012 sehari sebelum pemberangkatan ke Papua, dengan persiapan kebut 4 hari 4 malam kusegerakan pamit dan selamat tinggal buat Malang untuk segera mempersiapkan pernikahan di Mojokerto.

Mojokerto 9 Desember 2012,
Persiapan 4 hari dengan acara tasyakuran dan resepsi Walimatul ‘Urusy jelas banyak sekali kekurangan yang terjadi, namun bersyukur saat itu bukan “Musim Kawin” karena mitosnya orang pantang menikah di bulan Syuro (Muharram) jadi segala penyewaan mudah di dapat. Pernikahan yang sederhana namun bermakna dan penuh cerita terutama pada saat Akad Nikah berlangsung. Shubuh aku telah terbangun dengan perasaan berdebar tidak karuan sampai mual-mual, apakah ini yang disebut psycostomatic dimana kondisi tegang berlebihan sehingga perut menjadi tidak nyaman menyambut hari bahagia ini, padahal lelaki itu adalah orang yang telah lama kukenal. Segera ku kompres wajah dengan air es, sarapan,                  dan mandi supaya fresh. Tempat duduk pelaminan telah siap, terop dan terpal telah terpasang, tempat duduk,  konsumsi juga telah ditata di depan.
Pukul 06.00 perias telah datang dan mulai mengotak atik wajahku hingga seperti ratu sehari, tiba-tiba menjelang Akad Nikah hujan disertai angin turun begitu derasnya sampai meruntuhkan terpal depan rumah, semua sanak kerabat dikerahkan untuk kemudian memperbaiki kembali, aku berdoa dalam hati semoga hari ini semua akan berjalan dengan lancar, dan Alhamdulillah tidak lama kemudian cuaca terang dan acara inti telah terlksana. Barakah pernikahan kami dibuka dan ditutup dengan hujan disertai angin, namun semua berjalan lancar dan khidmat. Pernikahan ini begitu terburu-buru persiapannya bahkan penghulu sangat berkesan karena dari berpuluh-puluh tahun kiprahnya baru kali ini menemukan kasus Akad Nikah namun Surat Nikah belum selesai karena baru pengecekan data kembali, karena beliau berhutang budi kepada orangtuaku menjadikan proses inin begitu dimudahkan. Beliau berharap di lain kesempatan jangan  sampai terulang kasus seperti ini, dan memang bisa dimaklumi karena kondisi jarak yang jauh dan sulitnya transportasi menuju acara, serta dikejar waktu untuk segera ke Pulau Timur. Salut dengan calon suami yang ngebut perjalanan 4 hari menyeberangi laut, melewati hutan dan mengepakkan sayap di udara tanpa istirahat hingga sampai di Jawa dengan selamat. Lelah namun bahagia akan bertemu calon istri, Allah memudahkan segalanya, Amin.
Kejadian lucu yang tak terlupakan adalah ketika terbangun dari duduk lama selama proses Akad Nikah, karena aku memiliki gejala kolesterol yang sudah diambang batas. Duduk bertumpu kaki memang sangat lama hampir satu jam, kaki sudah terasa seperti kesemutan, ingin kurubah posisi duduk namun gengsi banyak tamu, akhirnya bertahanlah posisi dudukku hingga kaki mati rasa sambil berdoa dalam hati semoga nanti ketika berdiri rasa kesemutan ini telah hilang. Saatnya tiba dan ternyata kakiku masih sulit menyangga, hingga hampir terjatuhlah aku, hmm malu sekali banyak yang lihat dan tersenyum sambil mengucap “awas jatuh itu kakinya gringgingan”. Segera kuseimbangkan kakiku sambil memegang lengan suamiku dan akhirnya aku bisa berdiri dengan tegap sambil foto-foto dan sungkem, acara yang mengharukan hampir saja air mata menetes
Alhamdulillah statusku telah berganti menikah, banyak perubahan dalam menjalani hidup bersama tentunya dan kami akan belajar secara bertahap untuk menyempurnakan rumah tangga kami. Akhirnya pemberangkatan kami ke Papua diundur sampai tanggal 29 Januari 2013.

Renungan Hujan

 Oleh: Zaqia Nur Fajarini

Tulisan ini saya buat ketika mengabdi di sebuah pulau kecil di Papua Barat, saat yang semangat untuk menekan tuts keyboard laptopku dan baru sempat saya posting di blog, semoga bermanfaat

Hujan gerimis dan dinginnya bumi pagi ini mengajakku untuk merenungkan tentang apa yang telah dilakukan selama ini, sudahkah saya memaksimalkan otak untuk berfikir selangkah lebih maju? Banyak peluang yang terabaikan hanya untuk melamun meratapi diri. Untuk apa terpuruk lama dalam kedukaan, jika kita tahu setelah mendung pasti kan cerah kembali pertanda setelah kedukaan pasti ada kebahagiaan, setelah keterpurukan pasti kan datang kejayaan, setelah kegagalan pasti ada kesuksesan, mengutip Al-Quran Surah Al Insyirah ayat 5-6 yang berbunyi “Maka setelah kesulitan pasti ada kemudahan”. Jelas sekali Allah meyakinkan hamba-NYA supaya bangkit dan sabar manjalani kehidupan. Roda kehidupan terus bergulir hingga ruh telah tercabut dari jiwa yang hidup, oleh karena itu jangan pernah enggan untuk maju, untuk menorehkan karya-karya positif kita di atas lembaran kertas putih ini. 

Bukankah hidup akan terasa flat (datar) dan biasa saja apabila kesedihan dan kebahagiaan tidak saling beriringan? Bangkitlah dan segeralah berkarya karena hanya dengan berkarya menandakaan keberadaan diri dan existansi diri, melalui karyalah yang dapat mengeliminasi mendung dalam diri kita serta mampu melegakan jiwa yang dirundung rindu untuk sebuah kejayaan masa lalu, bukankah manusia tidak ada kata puas dalam hidupnya? Setelah mendapatkan sesuatu, maka bertambahlah keinginan untuk memiliki sesuatu yang lebih tinggi lagi, itu adalah sifat lumrah yang manusiawi namun saat ini banyak yang salah menafsirkan ketidakpuasan. 

Di zaman globalisasi saat ini ketidakpuasan lebih ditonjolkan pada kekayaan finansial, jabatan, dan kekuasaan. Contohnya anak yang merengek minta mainan yang mahal karena temannya memilikinya, ibu-ibu yang tidak puas dengan kemewahan rumah masih ingin membeli vila supaya tetangganya tidak bisa menandingi, seorang ayah yang ingin memiliki jabatan tertinggi di tempat kerjanya, dll. Mengapa kita tidak bersaing dalam hal ilmu dan ibadah yang lebih bermanfaat dan mendapat pahala? Dunia memang telah melenakan manusia sehingga jauh dan lupa dengan Tuhannya, maka Ghazwul Fikri harus dilakukan sebelum semua terlambat. Bukan perang dalam hal senjata, namun perang dengan 3 F (Fashion, fun, and food) dan 5 S (Song, sex, sport, science, and shopping) yang berdampak negatif bagi generasi muda saat ini. Semakin majunya teknologi bisa berakibat baik dan buruk, namun saat ini manusia dituntut untuk mengikuti perkembangan teknoogi jika tidak mau dikatakan gaptek (gagap teknologi) atau orang udik, bahkan balita usia 2 tahun sudah melek teknologi, sudah bisa bermain game, akibatnya hiburan semakin tidak terkontrol, manusia dijadikan malas dalam segala hal dan menurunlah moral bangsa. 

Teknologi yang berkembang di era globalisasi ini ketika dimanfaatkan dengan baik, maka akan memotivasi kita untuk meningkatkan potensi diri karena semua telah terhidang di tangan kita. Ketika penulis ingin mencari referensi pelengkap tulisan, murid ingin memperoleh informasi tentang tugasnya, ibu-ibu mencari menu masakan yang inovatif, bapak-bapak yang ingin mencari kolega dan mencari informasi tentang dunia kerjanya mudah saja tinggal klik google, kompas.com, detik.com, okezone.com, vivanews.com, dll. Tidak ada kata untuk mundur, putus asa, dan ragu demi terwujudnya cita-cita dan katakan mulai saat ini “Saya Bersemangat” untuk merealisasikan mimpi yang tertunda, menciptakan sebuah karya, dan mempersembahkan prestasi.

 Jangan pernah berpuas diri terhadap prestasi yang dimiliki, ciptakan karya-karya yang lebih banyak, sertu wujudkan asa. Jangan pernah berpuas diri terhadap ilmu karena ilmu yang kita miliki menjadikan derajat kita tinggi di mata Allah SWT dan ilmu yang bermanfaatlah yang akan kita bawa hingga yaumul hisab kelak. Keep spirit and motivation whenever ¬^_^.

 Rumah Kayu, 30 Juli 2013