Minggu, 28 September 2014

Aku dan kamu = kita ^_^

Memori yang tak Terlupakan





Setiap orang pasti mengetahui peristiwa apa yang terjadi pada gambar tersebut, Yap! Foto tersebut adalah peristiwa sakral dalam rangka menyempurnakan separoh dien antara aku Zaqia Nur Fajarini, S.Pd dengan lelaki yang telah aku kenal hampir 6 tahun Ifan Prasetya Yuda, S.Pd saat mengucapkan akad nikah dan berjanji untuk hidup bersama selama-lamanya mewujudkan keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah. setiap orang memiliki pengalaman menarik pastinya baik prewedding maupun ketika wedding, peristiwa yang dialami sekali seumur hidup ini memang wajib untuk di dokumentasikan dan direkam dalam memori forever, kejadian yang tidak akan terulang kembali biasanya acara ini drayakan begitu megahnya hingga ada yang mengeluarkan ratusan juta untuk persiapannya.
Pernikahanku benar-benar diluar rencana bahkan tidak sesuai rencana, terkendala transportasi karena kami LDR (Long Distance Relationship) selama setahun dan posisi calon suami di pedalaman Papua Barat. Tanggal 6 Juni 2012 dia melamarku tanpa kehadiran raganya, hanya ayahnya saja yang datang untuk memintaku menjadi istrinya, bisa dimaklumi  karena jauhnya keberadaan dan perlu merogoh rupiah yang tidak sedikit pula sedangkan calon suami masih menabung untuk persiapan pernikahan kami. Acara lamaran tetap berjalan dengan hikmad walaupun hanya jiwanya dan suaranya yang hadir, semoga semua lancar hingga pernikahan terlaksana meskipun kami belum bisa menentukan tepatnya kapan pernikahan kami. Akhirnya cincin dan anting 3 gram bertiliskan FAIZA menjadi pengikat hubungan kami serta pertanda keseriusan kami dalam berhubungan.
                                                                        ^_^
Perjalanan menuju pernikahan pastilah penuh tekanan, baik dari pihak internal maupun eksternal. Empat bulan berjalan setelah pertunangan kami, belum ada kepastian kami akan menikah yang jelas rencana akhir tahun 2012 atau awal tahun 2013 tapi belum tahu tanggal pastinya dan berbagai pihak selalu menanyakan kapan menikah sampai aku ingin kabur saja karena bosan, wajar saja manusia tidak ada puasnya bertanya dan ikut campur privacy orang lain, sampai akhirnya tanggal 20 November 2012 jam 21.15 WIB handphone lamaku berdering tanda sms masuk, aku buka kuncinya dan ternyata dari Dosenku, smsnya berbunyi: “Assalamu’alaikum Wr.Wb ada informasi penerimaan guru kontrak dengan gaji 5 juta dan penempatan di Teluk Bintuni-Papua Barat, bagi yang berminat silahkan mengirimkan lamaran paling lambat besok”. Kubalas sms tersebut dengan antusias dan terimakasih karena setitik cerah menuju pernikahan semakin nyata dan Teluk Bintuni daerah tempat calon suamiku mengajar dan ternyata suami langsung direkrut dari Papua sebagai guru kontrak yayasan.
Setelah mengikuti tes dan Alahmdulillah lulus administrasi hingga tes wawancara pada tanggan 25 November, ada 6 guru yang diterima dan kami dikumpulkan untuk koordinasi persiapan pemberangkatan. Pemberangkatan awalnya akhir Desember, kabar gembira bagi keluarga untuk mempersiapkan pernikahan kami yang rencananya tanggal 23 Desember setelah ujian semester I muridku. seminggu kemudian tepatnya tanggal 5 Desember 2012 aku dikejutkan dengan sms dari panitia penerimaan guru kontrak bahwa pemberangkatan ke Papua dimajukan tanggal 10 Desember 2012, bagi guru yang lain mungkin santai saja tapi bagiku yang mau menikah langsung shock membacanya dan otomatis semua rencana berubah 100% padahal kami sama sekali belum ada persiapan nikah. Aku hubungi calon suamiku ternyata memang tanggal 10 pemberangkatan. Akhirnya tanggal 5 Desember kami mantabkan untuk menikah tanggal 9 Desember 2012 sehari sebelum pemberangkatan ke Papua, dengan persiapan kebut 4 hari 4 malam kusegerakan pamit dan selamat tinggal buat Malang untuk segera mempersiapkan pernikahan di Mojokerto.

Mojokerto 9 Desember 2012,
Persiapan 4 hari dengan acara tasyakuran dan resepsi Walimatul ‘Urusy jelas banyak sekali kekurangan yang terjadi, namun bersyukur saat itu bukan “Musim Kawin” karena mitosnya orang pantang menikah di bulan Syuro (Muharram) jadi segala penyewaan mudah di dapat. Pernikahan yang sederhana namun bermakna dan penuh cerita terutama pada saat Akad Nikah berlangsung. Shubuh aku telah terbangun dengan perasaan berdebar tidak karuan sampai mual-mual, apakah ini yang disebut psycostomatic dimana kondisi tegang berlebihan sehingga perut menjadi tidak nyaman menyambut hari bahagia ini, padahal lelaki itu adalah orang yang telah lama kukenal. Segera ku kompres wajah dengan air es, sarapan,                  dan mandi supaya fresh. Tempat duduk pelaminan telah siap, terop dan terpal telah terpasang, tempat duduk,  konsumsi juga telah ditata di depan.
Pukul 06.00 perias telah datang dan mulai mengotak atik wajahku hingga seperti ratu sehari, tiba-tiba menjelang Akad Nikah hujan disertai angin turun begitu derasnya sampai meruntuhkan terpal depan rumah, semua sanak kerabat dikerahkan untuk kemudian memperbaiki kembali, aku berdoa dalam hati semoga hari ini semua akan berjalan dengan lancar, dan Alhamdulillah tidak lama kemudian cuaca terang dan acara inti telah terlksana. Barakah pernikahan kami dibuka dan ditutup dengan hujan disertai angin, namun semua berjalan lancar dan khidmat. Pernikahan ini begitu terburu-buru persiapannya bahkan penghulu sangat berkesan karena dari berpuluh-puluh tahun kiprahnya baru kali ini menemukan kasus Akad Nikah namun Surat Nikah belum selesai karena baru pengecekan data kembali, karena beliau berhutang budi kepada orangtuaku menjadikan proses inin begitu dimudahkan. Beliau berharap di lain kesempatan jangan  sampai terulang kasus seperti ini, dan memang bisa dimaklumi karena kondisi jarak yang jauh dan sulitnya transportasi menuju acara, serta dikejar waktu untuk segera ke Pulau Timur. Salut dengan calon suami yang ngebut perjalanan 4 hari menyeberangi laut, melewati hutan dan mengepakkan sayap di udara tanpa istirahat hingga sampai di Jawa dengan selamat. Lelah namun bahagia akan bertemu calon istri, Allah memudahkan segalanya, Amin.
Kejadian lucu yang tak terlupakan adalah ketika terbangun dari duduk lama selama proses Akad Nikah, karena aku memiliki gejala kolesterol yang sudah diambang batas. Duduk bertumpu kaki memang sangat lama hampir satu jam, kaki sudah terasa seperti kesemutan, ingin kurubah posisi duduk namun gengsi banyak tamu, akhirnya bertahanlah posisi dudukku hingga kaki mati rasa sambil berdoa dalam hati semoga nanti ketika berdiri rasa kesemutan ini telah hilang. Saatnya tiba dan ternyata kakiku masih sulit menyangga, hingga hampir terjatuhlah aku, hmm malu sekali banyak yang lihat dan tersenyum sambil mengucap “awas jatuh itu kakinya gringgingan”. Segera kuseimbangkan kakiku sambil memegang lengan suamiku dan akhirnya aku bisa berdiri dengan tegap sambil foto-foto dan sungkem, acara yang mengharukan hampir saja air mata menetes
Alhamdulillah statusku telah berganti menikah, banyak perubahan dalam menjalani hidup bersama tentunya dan kami akan belajar secara bertahap untuk menyempurnakan rumah tangga kami. Akhirnya pemberangkatan kami ke Papua diundur sampai tanggal 29 Januari 2013.

Tidak ada komentar: