Senin, 20 Oktober 2014

Balon Plastik Impian Kita


Para Peniup Mimpi



Permainan saat ini semakin canggih seiring bebasnya teknologi dunia, bahkan bukan hal yang tabu jika balita saja sudah bisa main Hand phone atau tablet, anak TK sudah canggih berkomunikasi melalui internet dan hanyut dalam dunia maya. Fakta tersebut mengembalikan saya ke dalam memory saat masih usia anak-anak, betapa mengasyikkan berpetualang di tengah sawah sambil mencari tebu atau mencari tanah liat untuk membuat mainan, menjaring ikan di kali, bermain rumah-rumahan dari tanah, lompat tali, bola bekel, congklak, dan lain-lain.


Permainan-permainan tradisional mulai jarang terlihat bahkan telah tenggelam oleh zaman, bukan karena anak-anak tidak suka, namun mediapun sudah mulai berkurang seiring maraknya pembangunan gedung-gedung metropolitan.

Permainan berbasis teknologi canggih memang hanya bisa dinikmati sebagian besar anak yang berkantong tebal. Kemudian, bagaimana dengan anak-anak yang hanya mengandalkan alam dan mainan dengan harga yang minim? Perlu memutar otak untuk membuat mainan yang menyenangkan tanpa mengeluarkan biaya yang mahal.

 “Kreativitas muncul dalam keterbatasan”, sebuah pepatah lama yang tak asing lagi untuk didengar. Sebuah jargon penyemangat bagi setiap orang yang saat ini berada dalam keadaan paling terjepit dan dirasa sulit melakukan suatu gebrakan.

Salah satu hal yang unik menurut saya ketika menjadi pendidik di daerah Papua Barat adalah kreativitas para siswa untuk menciptakan mainan baru dengan bahan yang murah meriah meskipun kurang ramah lingkungan, yaitu plastik. Bagaimana cara meniup plastik yang kecil menjadi balon berukuran besar seperti yang terlihat pada gambar di atas? Ternyata ada tekniknya lho! Perlu kesabaran dan keuletan dalam prosesnya, tidak jarang bagi yang baru belajar bisa menghabiskan berlembar-lembar plastik, termasuk saya hehe. Kelihatannya mudah, hanya meniup sebentar, kemudian menarik ujung kanan dan kiri plastik tersebut, kemudian meniup lagi sampai ukuran maksimal, tapi ketika dicoba super sekali perlu pernafasan yang panjang.

Berdasarkan cerita di atas, saya hanya ingin menyampaikan dan menganalogikan berbagai hal, yaitu:
  1. Meskipun mampu membeli balon warna-warni, tapi mereka lebih suka meniup plastik, baik anak-anak        sampai dewasa. Ternyata kreativitas bisa muncul dari beda-benda yang sederhana.
  2. Apapapun yang ingin kita capai, jika kita serius dan ulet pasti bisa terwujud.
  3. Sukses itu perlu  pengorbanan dan kesabaran, maka mimpi yang terkumpul dalam balon itu akan menjadi utuh dan tidak pecah.
  4. Saya, kamu, dia, dan mereka menginginkan semua berjalan sesuai rencana dan keinginan, namun terkadang lupa akan takdir rencanaNYA, sehingga mimpi dalam balon kita harus siap pecah dan tidak terwujud (tawakal).

3 komentar:

dina mengatakan...

meniup plastik, jarang kali ya, biasanya meniup balon he,

ludina mengatakan...

Bermain bisa menggunakan bahan-bahan yang ada di rumah, tak perlu mahal yang penting bersenang-senang y

Zaqia Nur Fajarini mengatakan...

mbk dina dan mbk ludiana trimakasih uda mampir ya *_*

mbk Dina betul lastik kecil bisa jadi ukuran sebesar itu dan ndak mudah meletus lhoooo..apalagi klo dolesi pilox atau oli

mbk ludiana iya...mimpi juga sederhana asal itu menyenangkan, ya kan? :-),g perlu bli yang mahal asal kreatif