Jumat, 10 Oktober 2014

Rasaku telah lalu

Oleh: Zaqia Nur Fajarini

Lama tak terlihat wujudmu, lama tak terdengar suaramu yang penuh dengan tausyiah, lama tak menghirup aroma wangimu, lama tak memperhatikan langkahmu, lamaaaaa sekali. Semakin jauh jarak semakin nampak ketidakberjodohan kita, perasaan tak terungkap ini biarlah terkubur dalam bercampur darah kotor yang tersirkulasi ke seluruh tubuh yang kemudian menjadi darah bersih kembali. 

Hujan gerimis saat ini membuatku menerawang jauh mengingat kembali moment-moment yang mendentumkan hati ini begitu cepat, sosok bayangmu yang telah lama sirna oleh waktu, kini menari-nari indah dan menggoyahkan kekuatan batin. 

Seandainya saja waktu bisa terputar kembali mungkin banyak hal yang bisa diperbaiki, akan banyak waktu untuk memandangmu, mengenalmu, menikmati paras wajahmu yang teduh. Ah, kata seandainya hanya akan memberikan harapan semu yang semakin membenamkan diri pada sebuah khayalan, nasi telah menjadi bubur dan aku sadar jika diri ini hanyalah punuk yang merindukan rembulan bukan rembulan yang akan menemani gelapnya malam untuk menerangkan hatimu yang gundah. 

Berilah sedikit kesempatan agar aku tidak membenci hari Selasa, tidak membenci jalan yang biasa kita lewati, tidak memaki sifat apatismu, dan selalu mengingat kata “proporsional”mu. Ketika membaca cuplikan paragraf dalam Novel “Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin” karya Tere liye : “Memendam perasaan cinta hanya akan membuat kita terhanyut dalam mimpi yang penuh dengan khayalan untuk selalu menghadirkanmu sebagai pelipur lara dan penyemangat diri, membuat kita tersenyum seolah semua nyata namun realita berkehendak lain, sehingga kita akan lapang dada dan bersyukur tentang apa yang kita dapati”. Aku merasa tersindir namun tepat sekali dengan yang kualami saat ini, apa yang harus kulakukan dengan hatiku? 

 Aku memang bukan wanita secantik Cleopatra, secerdas Ana Althafunnisa’ dan sebaik akhlak Aisyah ra, namun hatiku setulus Raihana pada novel “Pudarnya Pesona Cleopatra” yang hanya ingin mengabdikan diri untuk melayani suaminya meskipun suaminya tidak pernah mencintainya, tapi aku tidak ingin berakhir seperti Raihana yang meregang nyawa demi cinta, aku ingin akhir yang bahagia “Happy Ending” seperti dalam drama-drama korea kesukaanku atau love story. 

Ingatkah kamu ketika gerimis mendera dan aku harus bersembunyi di bawah jas hujanmu yang berwarna biru, aku malu namun tak kuasa menolak tatapanmu yang mampu mendesirkan setiap detak jantungku. Pesonamu begitu menawan seperti Qais, aku rela menjadi Laila majnun yang tergila-gila terhadap kesempurnaan Qais. Mengertikah kamu aroma wangimu mampu menghipnotis hidungku dan menghentikan hembusan nafasku untuk memasuki benteng hatimu yang sulit sekali ditembus. Bagimu mungkin itu hal yang biasa namun bagiku segala yang kamu lakukan padaku membuat jiwa ini melayang-layang menembus dan melebur ke langit ketujuh sebelum akhirnya aku tersadar dalam lamunanku bahwa semua hanya khayalanku belaka. Ada kenyamanan dalam ucapmu, ada kehangatan dalam auramu, dan ada harapan dalam sikapmu sehingga cukup bagiku untuk berada di atas awan. Aku takut terjatuh dan terjerembab dalam luka dalam, cukuplah dan aku menyerah terhadap rasa ini karena aku punya harga diri sebagai wanita dan aku lebih memilih setia. 

 Rinduku saat ini yang semakin menyendukan jiwa, hati yang retak, dan peri kecil yang ikut merasakan kesedihanku atas sikapmu biarlah menjejal dalam diri, biarlah kurasakan dan kunikmati sendiri tanpa melodi kasih darimu. Whats wrong with me? Sikapmu yang berubah semakin membuatku merasa bagai kambing hitam atas nama “berharap”, tetaplah wajar seperti sedia kala tanpa menjauh, tanpa diam, tetaplah berkata dengan ketenangan dan aku akan menerima dengan keikhlasan. Hingga harapan itu telah pupus, bibir ini tetap enggan untuk menyatakan cinta. Mungkin kamu sudah faham atau pura-pura tidak faham tentang berbagai tingkah dan perubahan kesensitifanku selama ini. 

Bukan salahmu atas keretakan hati ini, tapi akulah wanita tidak tahu diri yang patut menjadi terdakwa atas kelancangan hati yang telah dimiliki. Kesetiaan yang diuji di atas kelemahan rasa, dan “Diam” memang penyelesaian. 

Hari demi hari berlalu tanpa memperdulikan perasaanku yang masih galau bagaimana akhir rasa ini, ah mungkin harus ku kandaskan saja dalam lumpur kesurutan jiwa atau ku hanyutkan ke tengah lautan biar hilang diterjang ombak. Tapi, semudah itukah? Hati bukanlah benda yang bisa dihancurkan secara fisik, namun luka goresnya tak mampu terobati secara medis, hanya balasan dan kepastian rasalah yang bisa menjernihkannya. 

Siapakah muslimah beruntung yang mampu meluluhkan hatimu? Tidakkah sedetikpun namaku singgah dihatimu atau bahkan difikiranmu? Dosakah jika namamu telah mengusik hatiku yang telah dimiliki? Aku begitu penasaran hingga sabarku telah melebur dalam ketentuan jodoh telah memilih pangeran hatiku untuk selamanya. 

Finally, siapapun jodohmu nanti aku berharap kita akan dipertemukan kembali dalam kebahagiaan masing-masing. insyAllah ^_^ (Setiap orang pasti memiliki masa lalu dan biarlah masa lalu menjadi secuil kenangan dalam diri untuk bangkit)

2 komentar:

nur azizah perwitasari mengatakan...

Setuju ki... always Hwaiting...

Zaqia Nur Fajarini mengatakan...

haha...lebay tpi bahasanya ya