Senin, 17 November 2014

Apa Hubungan Jamur Dewa dengan HIV/AIDS?

Jamur Dewa (obatkanker.jamurpedia.com)

HIV/AIDS di Indonesia mengalami peningkatan yang signifikan dengan akselerasi semakin mengkhawatirkan.                                        
Laporan Triwulan II Kemenkes yang diperoleh dari www.spiritia.or.id menyatakan sampai dengan tahun 2005 jumlah kasus HIV yang dilaporkan sebanyak 859, tahun 2006 (7.195), tahun 2007 (6.048), tahun 2008 (10.362), tahun 2009 (9.793), tahun 2010 (21.591), tahun 2011 (21.031), tahun 2012 (21.511) dan tahun 2014 (15.534). Jumlah kumulatif infeksi HIV yang dilaporkan sampai dengan Juni 2014 sebanyak 142.961.

Jumlah infeksi HIV tertinggi yaitu di DKI Jakarta (31.586), diikuti Jawa Timur (18.210, Papua (15.686), Jawa Barat (12.049) dan Bali (9.051).

         Saat ini telah ditemukan obat-obatan yang tampaknya memperlambat replikasi virus tetapi memiliki efek samping yang perlu dipertimbangkan. Permasalahan lain adalah mahalnya biaya untuk penyediaan obat dan biaya pemantauan laboratorium. Diperkirakan karena mahalnya biaya pengobatan, maka hanya  5-10% pengidap HIV/AIDS yang mampu berobat karena sebagian penderita tergolong kurang mampu.

 Permasalahan tersebut memberikan tantangan untuk menemukan obat yang murah, aman, dan dapat menghambat bahkan menghancurkan virus HIV. Obat dengan efek samping kecil bahkan aman untuk pengguna biasanya berasal dari bahan alami (bukan sintesis). Agaricus blazei Murill yang dikenal dengan nama Jamur Dewa menunjukkan aktivitas immunomodulatory dan antitumor.

Jamur Dewa ( Agaricus blazei ) muncul sebagai solusi, karena mengandung senyawa polisakarida Beta Glucan yang dapat menghambat pertumbuhan HIV/AIDS dan memiliki peranan sebagai protease inhibitor dan reverse transcriptase inhibitor, mengaktifkan berbagai agen imunitas tubuh untuk menyerang virus infeksi oportunistik.

Kelebihan dari jamur ini adalah berkhasiat obat tanpa efek samping dan aman untuk dikonsumsi penderita, selain itu harganya lebih murah dibandingkan dengan vaksin anti retrovial sintetis dan jamur ini cocok dibudidayakan di Indonesia. 

2 komentar:

nurul fitri fatkhani mengatakan...

Wah...info yang bermanfaat terutama bagi penderita HIV..!

Zaqia Nur Fajarini mengatakan...

bner mbk setidakny ada ikhtiar back to nature