Selasa, 16 Desember 2014

Imunisasi Dasar dan Efek terhadap Bayi

Ekspresi Fafa saat diimunisasi
Hmm...paling ndak tega deh melihat anak kecil dsuntik atau diinfus apalagi anak sendiri,,huaaa ngebayangin aku sendiri yang paling ndak tahan klo sakit apalagi anak kecil. H+2 pasca kelahirannya sudah harus disuntik untuk imunisasi Hepatitis dan harus berlanjut sebulan sekali sampai umur 4 bulan dan usia 9 bulan terakhir untuk campak. tetapi Fafa telat satu bulan karena sakit grok-grok tenggorokannya.

Awalnya tidak tega dan sempat berfikir untuk tidak melakukan imunisasi, namun akhirnya aku dan suami berdiskusi tentang pentingnya mencegah daripada mengobati, ya ini bagian ikhtiar dari kami juga untuk meningkatkan kekebalan tubuh anak, selebihnya Allah yang berkuasa, akhirnya kami memutuskan untuk melakukan imunisasi di bidan terdekat. Pentingnya imunisasi dapat dibaca disini.

Pengalaman imunisani Hepatitis usia H+2, tidak ada efek yang terjadi. Ketika imunisasi BCG dan Polio 1 Usianya sudah 2 bulan, efeknya badan sedikit hangat dan kami khawatir karena 4 hari kemudian harus perjalanan dari Mojokerto-Bali namun Alhamdulillah anak manisku kuat perjalanan jauh meski harus sering istirahat.

Selanjutnya Imunisasi DPT 1 dan Polio 2 Fafa badannya demam sampai suhunya 38 derajat, tapi sudah diberi Paracetamol Gravadon oleh Bidan dan 2 hari kemudian sudah sembuh, pada saat Imunisasi DPT 2 dan Polio 3 badannya tidak panas, namun saat imunisasi DPT 3 dan Polio 4 badannya kembali panas. kami tidak terlalu khawatir dan Alhamdulillah Fafa ndak rewel.

Mengapa setelah imunisasi, badan anak menjadi demam? 

Beberapa anak kerap mengalami demam usai disuntik vaksin. Akibatnya, beberapa orangtua memutuskan tidak memberi vaksin, karena khawatir demam yang akan melanda. Demam menyebabkan anak rewel, yang mengakibatkan istirahatnya terganggu.

Padahal, menurut Ketua Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Prof. DR. dr. Sri Rezeki Hadinegoro.demam usai vaksin tak seharusnya dikhawatirkan para orang tua.

"Justru yang harus dikhawatirkan akibat jika tidak vaksin. Serangan Haemophillis influenza tipe B (HiB) misalnya, bisa mengakibatkan pneumonia, meningitis, hingga kecacatan," ujar Sri.

Demam usai vaksin, kata Sri, disebabkan oleh reaksi tubuh terhadap toksin kuman yang sudah dilemahkan yang masuk ke dalam tubuh. Sri mencontohkan vaksin DPT yang kerap menyebabkan demam. "Vaksin DPT 40 persen menyebabkan demam. Hal ini dikarenakan adanya toksin dari vaksin pertusis. Orangtua bisa memilih vaksin yang tidak menimbulkan demam," kata Sri.

Lebih jauh Sri menjelaskan, vaksin DPT terdiri atas dua jenis. Vaksin DPT whole cell dengan huruf W kecil di atas huruf P, menandakan vaksin tersebut menyebabkan demam. Hal ini dikarenakan seluruh sel kumam dimasukkan dalam vaksin, termasuk toksinnya.

Jenis vaksin kedua adalah DPT dengan huruf A kecil di atas huruf P. Huruf A merupakan kepanjangan aseluler. Artinya, kandungan toksin sudah tidak ada sehingga anak terbebas dari demam.
Terlepas dari jenis vaksinnya, Sri mengatakan orangtua tidak perlu khawatir. "Yang penting pastikan anak sehat sebelum vaksin. Namun orangtua perlu khawatir bila sebelum vaksin anak sempat kejang," kata Sri.

Sebelum dilakukan vaksinasi, biasanya Bayi harus ditimbang terlebih dahulu dan dicek kesehatannya. Fafa anteng banget deh dan pinter ndak nangis ketika disuntik, cuma ngeeek sebentar :-*.

Anteng apa Tegang ya Nduk Wow uda 7 Kg ja 5,5 bulan
Sehat selalu untuk Bidadari pertamaku....We Love U :-*

Tidak ada komentar: