Jumat, 19 Desember 2014

Nano-nano Kehidupan Guru dalam Sebuah Buku

www.kutukutubuku.com
Judul Buku : Secangkir Kopi Kehidupan Guru
Editor          : Chika Ananda
Penerbit       : PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan       : September 2014
Tebal            : 242 halaman
ISBN            : 978-602-03-0938-5

I love Rainy Season di Bulan Desember ini, suasana dingin membuat hati dan fikiran juga adem ayem. menghangatkan diri dengan secangkir kopi ditambah hidangan buku Secangkir Kopi Kehidupan Guru semakin menyempurnakan hariku. Membaca buku ini seolah-olah diriku bagian dari cerita tersebut, sebagiannya pernah kualami ketika berada di Pulau paling Timur Indonesia.

Buku yang menceritakan berbagai kisah inspiratif perjalanan seorang guru ketika praktek mengajar (PPL) hingga saat bertugas di daerah terpencil. Penulis menggambarkan bahwa setiap peristiwa hidup selalu memberikan hikmah tersendiri sesuai dengan sudut pandang masing-masing. Perjalanan menjadi seorang pengajar menorehkan kisah manis, asem, pahitnya sebuah pengabdian. Tugas yang diemban tidaklah main-main karena harus mencetak generasi yang berhasil dengan kesejahteraan yang kurang terlirik. 

Menamatkan buku ini tidak perlu waktu yang lama, karena bahasanya yang ringan dan cerita berdasarkan kisah nyata mampu menyedot konsentrasi dan membawa pembaca untuk menyelaminya dengan rasa penasaran. ceritanya ringan namun dikemas apik oleh penulis sebagai cerita yang inspiratif diselingi sedikit humor. Cover berwarna hijau tua menggambarkan kedamaian, kesejukan, dan keteduhan akan sifat seorang pendidik.

Gaya bahasa yang tepat dipakai teh Meti selaku penulis sangat mengena dan mengalir karena beliau mengalami secara langsung semua peristiwa tersebut. saat ini penulis mendedikasikan diri sebagai trainer pendidikan dan aktif dalam grup penulisan di Johor-Malaysia.

Buku ini menunjukkan bahwa tugas guru tidaklah hanya menyampaikan ilmu dan mendidik mereka menjadi generasi berguna, namun guru juga harus bisa berindak sebagai sahabat dan keluarga, menjadi sandaran atas berbagai permasalahan (hal: 42). bukan berarti bersahabat akan menurunkan martabat seorang guru melainkan itu adalah strategi jitu untuk memenangkan hati murid. apabila hati murid sudah kita pegang, maka mudahlah ilmu dan arahan yang kita sampaikan ke dalam diri mereka.

Pada dasarnya memilih tempat mengajar adalah sebuah dilema, banyak yang berminat untuk mengajar di Sekolah elite di Kota besar dan sedikit yang memilih mengajar di daerah terpencil apalagi sekolah Yayasan yang dananya tak tentu, namun penulis bisa meyakinkan bahwa mengajar di desa tidak lantas mengkerdilkan pemikiran kita namun memberikan berjuta kisah anak-anak yang terlahir  sebagai mutiara yang tak terasah oleh kemiskinan. Pada halaman 85, penulis memaparkan bahwa dalam hati kecil ingin mendapatkan penghasilan yang besar, namun jika semua orang mengambil keputusan seperti itu bagaimana dengan nasib sekolah-sekolah terpencil?bukankah mereka juga memiliki hak yang sama untuk pendidikan yang layak? dan bagaimana pendidikan negeri ini bisa merata? bahkan keputusan itu dipertegas oleh sang bapak melalui pesan "Bapak menyekolahkan kalian tidak untuk mencari uang tapi supaya kalian pintar, berbudi luhur, dan manfaat bagi masyarakat dan bangsa" (hal:209).

Buku ini juga mengisahkan tentang bagaimana seorang guru menyelesaikan permasalahan di kelas, melakukan pendekatan personal untuk sebuah solusi. Fenomena kelas ambruk, guru borongan, impian guru, gara-gara dangdut, sampingan guru, dan lain-lain masih banyak kita temukan saat ini. Harapannya Pemerintah akan lebih memperhatikan permasalahan ini kedepannya.

Kelebihan lainnya dari buku ini adalah didukung gambar-gambar yang sesuai meskipun sedikit. untuk kekurangannya adalah sedikit gambar padah gambar bisa menjadi penunjang informasi visual yang tepat, selain itu penggunaan kertas buram mengakiibatkan mata mudah lelah. terlepas dari kekurangan yang ada, buku ini sangat direkomendasikan terkait manfaat dan pengalaman inspiratif yang tersirat.



Tidak ada komentar: