Jumat, 26 Desember 2014

Efek Nonton Film Pembunuhan, Anakku Jadi Paranoid

netsains.net
Seorang teman bercerita tentang kondisi salah satu anak dari temannya, saat ini masih duduk di bangku SD, anaknya cerdas, ketika masih umur 3 tahun sudah pandai membaca dan menulis dengan lancar, Pada saat sekolah mengalami akselerasi, anak seorang guru yang terpandang.

Namun ada satu kelemahan dibidang sosial, dia takut terhadap lingkungannya. Semua berawal ketika dia suka melihat film-film horor dan pembunuhan. selain itu kedua orangtuanya mendidik dengan keras, menakut-nakuti misalnya, jika tidak mau ongtidur nanti didatangi makhluk halus, jika nilai ujian jelek nanti dihukum. tak cukup kedua orangtuanya seperti itu, ternyata keluarga yang lain dan lingkungannya juga terbiasa menakut-nakuti sehingga si anak menjadi sosok paranaoid.

media.viva.co.id
Akhirnya berdampak pada anak ketika berada di Sekolah, sang guru bingung dengan sikap si anak yang tiba-tiba berteriak atau terkadang lari, karena takut. Setelah ditelusuri ternyata sang anak merekam dengan jelas berbagai peristiwa menakutkan yang pernah dia lihat.

Hasil penelitian Lembaga Kesehatan Mental Nasional Amerika yang dilakukan dalam skala besar selama sepuluh tahun. “Kekerasan dalam program televisi menimbulkan perilaku agresif pada anak-anak dan remaja yang menonton program tersebut,” demikian simpulnya. Sedangkan Ron Solby dari Universitas Harvard secara terinci menjelaskan, ada empat macam dampak kekerasan dalam televisi terhadap perkembangan kepribadian anak. Pertama, dampak agresor di mana sifat jahat dari anak semakin meningkat; kedua, dampak korban di mana anak menjadi penakut dan semakin sulit mempercayai orang lain; ketiga, dampak pemerhati, di sini anak menjadi makin kurang peduli terhadap kesulitan orang lain; keempat, dampak nafsu dengan meningkatnya keinginan anak untuk melihat atau melakukan kekerasan dalam mengatasi setiap persoalan.

Tokoh utama yang berperan dalam memilih dan memilah tontonan yang bermanfaat adalah lingkungan keluarga, karena lebih dari separuh hari anak-anak berada di rumah. bukan melarang secara langsung namun sedikit-sedikit membimbing dan mengawasai apa yang dilihat sang anak terkait dengan era teknologi dan globalisasi yang kian maju.

Mari menjadi sahabat yang benar bagi anak-anak kita karena merekalah yang meneruskan amanah dan perjuangan orangtuanya, menjadi penggerak perubahan menuju arah yang lebih baik.