Kamis, 29 Januari 2015

Pantang Menjadi Peminta-minta (Anak TKBM)

Anak-anak TKBM
"Lebih baik tangan di atas daripada tangan di bawah" sepertinya tepat untuk mengungkapkan gambaran di atas atau "Hidup itu Kerja Keras" layak untuk merepresentasikan fenomena tersebut. 

Ketika Kapal Barang datang, Puluhan anak berbaris dan mengantri di pinggir Jeti (Pelabuhan kecil pemberhentian Kapal) bahkan terkadang juga berebut, tak peduli pagi, siang, sore, atau malam, panas atau hujan, bukan untuk menaiki Kapal atau berselfie ria, namun untuk mengangkut barang-barang dagangan milik kios-kios yang ada di tempat kami. Ramai dan penuh semangat mereka mengangkut barang-barang berat tersebut, biasanya memakai kereta dorong atau diangkut dengan tangan.

Fenomena ini sangat biasa, para anak-anak dan pemuda yang kebanyakan murid Sekolah Dasar saya biasa melakukan aktivitas sebagai TKBM (Tenaga Kerja Bongkar Muat) tentunya sesuai kemampuan fisiknya dan tidak mengganggu sekolahnya, ada juga yang berjualan sagu, ikan, siput, pisang, dan lain-lain. dibilang terpaksa juga tidak, mereka tidak malu bahkan tetap menyapa "Bu guru" dengan senyuman ketika melewati rumah saya dengan mengangkut barang-barang tersebut.

Saat saya tanya alasan harus melakukan aktivitas tersebut? ya faktor utama pasti untuk menambah uang jajan mereka, karena untuk minta uang kepada orangtua tidak semudah menyodorkan tangan. Mayoritas penduduk asli Sasari-Papua Barat belum mengenal arti dan manfaat dari KB (Keluarga Berencana), sehingga sebagian besar memiliki anak minimal 5-7 orang sedangkan mata pencaharian orangtanya serabutan antara nelayan dan berburu di hutan.

Namun satu hal yang patut saya acungi jempol dan salut adalah belum pernah saya menemukan "Pengemis" di  sana. Mereka bekerja apapun. mengeluarkan keringat sebelum mendapatkan rejeki. 

Saya sering berempati dengan mengajak mereka makan kue atau minum teh atau memberinya uang saku, tapi tetap saja mereka selalu mencoba menawarkan jasanya meskipun hanya mencuci piring atau menyapu rumah, SubhanAllah, semoga sampai kapanpun mereka bisa menjaga harga diri dimanapun.

Bersyukur Pendidikan gratis sudah diterapkan di sana, sehingga mereka hanya perlu belajar dan membantu orangtua. meskipun mencari uang adalah tugas orangtua, tapi mereka harus tetap membantu berjuang untuk mengisi perut dan agar dapur tetap menyala dalam keluarga besarnya.

Hikmahnya: Dalam kondisi apapun kita, seterpuruk apapun kita dalam kondisi ekonomi seminim apapun, yakin pertolongan Allah dan tetaplah menjaga harga diri  untuk tidak meminta-minta. ketika tenaga masih mampu melakukan usaha, maka ikhtiar dan tawakal adalah solusinya.



2 komentar:

Nurul Fitri Fatkhani mengatakan...

Di sana gak ada pengemis mbak..?
Wah..mantaap!Lebih baik usaha yang halal daripada meminta-minta ya..

Zaqia Nur Fajarini mengatakan...

Alhamdulillah mbk ndak ada pengamen juga ndak,,,jdi inisiatif orang2 yg mampu untk berempati ^_^