Rabu, 18 Februari 2015

Dianggap Nebeng Nama, Tamparan Semangat untukku!

Akhirnya Tembus Pimnas ^_^


Jujur Aku mengenal dunia literasi, tulis menulis adalah sejak Tahun 2006, kebetulan Jurusan tempatku mengenyam Pendidikan selalu mengiming-imingi nilai A kalau bisa lolos Lomba Karya Ilmiah jenis apapun, tak bisa kupungkiri hati ini tergoda namanya juga Mahasiswa hehe.. Jurusan pendidikan Biologi menjadi pioner Forum Diskusi dan Kepenulisan di Kampusku.

Mulai dari NOL tentunya, ya menyesal selalu datang di ekor deh kenapa Aku dulu tidak ikut Ekstrakulikuler saat SMA biar gak blank sekarang. tidak apalah namanya juga usaha, yang jelas tidak ada kata terlambat, sudah ada ambisi untuk bisa dan yakin bisa lolos.

Ceritanya ada kakak tingkat yang sudah tidak diragukan lagi kemampuannya dalam berliterasi di dunia kepenulisan, beliau sebagai pembimbing mulai dari pencarian ide, penyusunan naskah, hingga pengkoordinir pengiriman naskah, tak lupa memberikan tips lolos  Lomba Karya Ilmiah. Nah, Semester I Aku mendapatkan IPK sempurna sehingga mendadak menjadi Artis Jurusan hehe..sebagai Mahasiswi Baru yang tak tahu apa-apa, Aku diajak menjadi Tim LKTM IPA untuk mengikuti Rector Cup bersama sang jagoan. antara senang dan beban juga, namun Alhamdulillah dapat Juara I dan lolos seleksi tingkat Kopertis VII Jatim, mudah ya? Tapi tahu tidak hampir 90% Aku tidak memberikan kontribusi yang bagus.

Akhirnya tersebarlah gosip Aku Nebeng Nama, makanya bisa menang! wah rasanya mata pengen nangis dan hati teriris mendengarnya. namun gosip itu ada benarnya, sehingga membuatku tertampar dan tertantang untuk menunjukkan bahwa Aku bisa berdiri sendiri dengan ide dan karyaku.

Memang Aku tidak terlepas dari bimbingannya, namun ide penulisan dan isi yang tertulis dalam Karya perdanaku murni dari pikiranku, study literature, wawancara, dan survey. Karya Ilmiah perdana bisa dipastikan gagal, menangis mengurangi sedikit kekecewaanku saat itu setelah perjuangan berat dalam menyelesaikannya. Tak gentar, Aku mencoba mengajukan proposal Kewirausahaan Dikti, Tahun 2008 lolos pembiayaan bahkan tembus sebagai Finalis Pekan Ilmiah Nasional (Pimnas) yang merupakan ajang bergengsinya para Mahasiswa lho, Girang pastinya  karena tulisanku menemukan Jodohnya^_^.

Percaya nggak sih kalau tulisan kita nggak tembus-tembus itu bikin penasaran, dan kalau sekalinya lolos bikin semangat mulus meningkat. setelah lolos nasional, karya-karyaku seolah mendapat lampu hijau, setiap tahun Aku mendapatkan Pendanaan dari Dikti serta reward. kemudian Aku mencoba menulis di media dan tentunya tidak semua tulisanku dimuat.

Lambat laun slentingan-slentingan pedas berkurang berganti selamat dan dukungan untukku agar terus menorehkan karya kapanpun dan di manapun.

Ada beberapa sikap yang perlu ditanamkan oleh penulis pemula sepertiku agar semangat untuk berkarya tetap stabil:
  1. Tumbuhkan sifat terpaksa. Siapa bilang terpaksa itu menyiksa seperti diperkosa? tak selamanya terpaksa dan dipaksa itu buruk. dalam hal-hal positif, pemaksaan itu perlu, dengan terpaksa, kita pasti sulit untuk tidak mengerjakan. entah terpaksa demi nilai, demi ekonomi, atau demi ambisi setelah terpaksa, lambat laun akan menjadi kebiasaan yang positif.
  2. Berdamai dengan Cara Menangis. Menangis adalah salah satu cara untuk meringankan permasalahan diri, apalagi saat mengalam kekalahan saat kompetisi atau penantian berujung kecewa ketika tulisan tidak dimuat dan lewat begitu saja. Namun setelah menangis, bangkitlah dengan mempelajari kelemahan diri untuk diperbaiki dalam karya selanjutnya.
  3. Tanamkan Ambisi. Tidak selamanya Ambisi itu negatif, Ambisi dalam berkarya itu perlu sebagai motivasi kita untuk melangkah. Ambisi adalah keinginan (hasrat dan nafsu) untuk memiliki sesuatu dan mencapai kesuksesan. tanpa ambisi untuk menang atau untuk lolos media, maka semangatpun menurun juga. tapi bedakan antara ambisi dengan niat. niat untuk memberikan manfaat oke namun ambisi dalam hal positif juga oke.
  4. Motto Gagal Satu Sukses Seribu. Pepatah yang biasa kita kenal mungkin mati satu tumbuh seribu, namun bisa kita rubah bahwa kegagalan sekali di masa lalu bisa menjadi aset untuk sukses seribu kali ke depan. Sebagai orang berpikir, kita tentunya tidak akan jatuh pada lubang kegagalan yang sama, kita pasti akan mencari cara atau metode lain untuk memperbaiki kesalahan.
Semua penulis sukses tentunya berangkat dari bawah, tak semudah membalikkan tangan untuk menjadi penulis terkenal. mencoba dan mencoba, menulis dan menulis, jodoh dan jodoh akan bertemu (jodoh menulis maksudnya ^_^), Semangat untukku dan semua yang suka menulis.





2 komentar:

Hilda Ikka mengatakan...

Terdaftar! Terima kasih ya Mak udah ikutan ^^

Wah, hebat dong. Dengan begitu jadi tercambuk semangatnya dan berusaha membuktikan diri kepada publik. Salut! ^^

Zaqia Nur Fajarini mengatakan...

trimakash uda mampir dek...hu'um bener dicambuk demi kebaikan apalagi godaan zaman globalisasi merajalela...hihi