Jumat, 06 Maret 2015

"Mbah Jan" Pahlawan Pendidikan tanpa Lencana


Dok. pribadi
Keceriaan anak-anak TK dan MI dalam perjalanan menuntut ilmu membuatnya semangat '45 mengayuhkan pedal dengan kaki yang tak sekuat dahulu, menembus sejuknya pedesaan dan jalanan yang mulai ramai karena jam beraktivitas, menuju Sekolah yang asri, gerbang yang mengantarkan mereka menjadi manusia terdidik kelak.

Usia 66 Tahun bukanlah usia muda bagi si Kakek, namun semangatnya tak kalah dengan yang muda. Usia dimana seharusnya beliau menikmati masa tua di rumah sambil minum kopi, membaca koran, dan bersantai dengan keluarga mungkin. tapi bagi kakek yang biasa dikenal dengan "Mbah Jan" ini justru tetap mengabdikan diri sebagai "Becak Antar Jemput" anak-anak yang bersekolah di TK ABA V dan MI Muhammadiyah Gedeg, Kabupaten Mojokerto.

Beliau mengantar anak MI terlebih dahulu karena masuknya lebih pagi dari TK dan sebaliknya. untuk menjemput ketika pulang TK dahulu baru MI yang pulang pagi hingga kembali lagi sore hari untuk menjemput siswa kelas 4-6 MI. sekali berangkat becak tersebut membawa 5 orang siswa dan untuk tas mereka diletakkan di dekat setir, begitu hati-hati dalam perjalanan tentunya.

Zaman sekarang antar jemput menggunakan mobil mungkin sudah biasa, namun dengan becak tentunya berbeda dan lebih berkesan, bisa dilihat dari senyum ceria anak-anak bersama kawan saat perjalanan dan menikmati pemandangan yang mereka lintasi sambil bernyanyi dan bercerita riang sekali. "Mbah Jan" senang dan bersyukur masih banyak yang memanfaatkan jasanya sebagai tukang becak untuk hal-hal bermanfaat. beliau selalu berdoa agar anak-anak tersebut kelak jadi orang berguna.

Beliau sudah lama sekali menjadi tukang becak, bisa jadi puluhan tahun. Karena ketika ditanya, beliau menjawab lupa. sebelumnya, selain sebagai tukang becak, beliau juga sebagai penjahit. namun setelah matanya sakit dan tidak jeli lagi, maka hanya menjadi tukang becak untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Beliau tidak pernah mematok harga untuk antar jemput sekolah anak-anak ini, semua diserahkan kepada keikhlasan para orangtua. ada yang membayar perminggu dan ada yang perbulan, biasanya sekitar Rp 450.000,00 yang beliau dapatkan. syukur Alhamdulillah selalu terucap karena sampai saat ini beliau bisa menjalani kehidupan bersama anak dan istrinya yang sudah 7 tahun ini menderita sakit komplikasi, kelima anaknya sudah mandiri.

"Mbah Jan" adalah salah satu Pahlawan Pendidikan tanpa tanda pengenal, Mengapa? secara tidak langsung, beliau adalah pejuang yang membantu suksesnya pendidikan. tanpa beliau bisa jadi banyak anak-anak yang kesulitan dan kebingungan untuk berangkat ke sekolah apalagi sekarang banyak orangtua yang berkarir dan sempit waktu utuk mengantar anaknya. dampaknya adalah keterlambatan menuju sekolah. 

Beliau tidak membutuhkan tanda pengenal seperti para pendidik dan pejuang lain dengan lencana emasnya, hanya berharap keberhasilan cucu-cucu yang sholeh, para siswa tersebut kelak mendo'akan beliau. Salam semangat dan sehat selalu untuk "Mbah Jan". 


2 komentar:

Nurul Fitri Fatkhani mengatakan...

Semangat teruuus mbah Jan.. !

Zaqia Nur Fajarini mengatakan...

semangat buat semua ^)^