Minggu, 08 Maret 2015

Review Buku: Belajar adalah Perjuangan "Jejak-jejak Kecil"

cover

Ukuran      : 13.5 x 20 cm
Tebal         : 200 halaman
Terbit        : November 2014
Cover        : Softcover
ISBN         : 978-602-03-0925-5
No Produk : 20401140114
Penerbit     : PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

Sinopsis:
Pengalaman selama menuntut ilmu tentunya menghadirkan banyak kisah yang kaya akan rasa. Ada sedih, bahagia, berbunga-bunga, kesal, marah, dan kecewa. Setiap rasa yang hadir, menggoreskan kenangan indah dalam perjalanan hidup ini. Kisah yang sayang untuk dilupakan begitu saja.

Jejak-jejak kecil kita akan selalu indah untuk dikenang, bahkan sekalipun itu adalah pengalaman yang konyol, tolol, dan memalukan. Jejak ketika kita ingin menggapai mimpi-mimpi indah. Mimpi yang selalu berputar-putar dalam benak kita. Mimpi yang menghadirkan gemuruh di dada. Mimpi yang membuat langkah kecil kita semakin kencang dan sulit dihenti kan. Ketika kita menengok ke belakang, dalam jejak kecil kita ada banyak pelajaran yang bisa kita sarikan.

Buku ini berisi kisah-kisah dari kehidupan para siswa dalam mengarungi perjalanan hidup, mencapai cita-cita dan harapan. Kisah-kisah penuh warna yang mampu memberikan inspirasi bagi siapa saja yang membacanya. Buku ini disajikan dalam bahasa yang ringan, mengalir, dan kocak sehingga mudah dinikmati.

Review:

Bulan kemaren Saya akhirnya menamatkan buku ini karena baru bisa membaca di sela-sela kesibukan menemani si kecil. buku "Jejak-jejak Kecil" ini adalah karya kedua dari mbak Meti Herawati yang Saya baca. Saya suka sekali membaca buku-buku karya beliau, karena mengisahkan kehidupan sehari-hari yang biasa dialami.

Buku ini menceritakan tentang berbagai peristiwa-peristiwa kecil yang berkesan dan memberikan jejak memory suka duka perjuangan sebagai seorang siswa. suka, duka, hingga kekonyolan yang tercipta semasa menuntut ilmu, perjalanan yang tentunya memberikan kesan berbeda-beda bagi setiap orang yang tentunya sulit dilupakan bukan?

Menuntut ilmu adalah perjuangan dan kerja keras, membuang rasa malu, serta sifat rendah diri meskipun harus menjual rokok di terminal dengan resiko kepanasan tentunya dalam judul "Sekolah dan Kotak Rokok"(Halaman 89). ada juga perjuangan "Anak Gunung" yang memiliki impian untuk sekolah setinggi-tingginya di tengah-tengah lingkungan yang antipati dengan pendidikan, dia berjuang dengan cara mencari beasiswa dan tetap membantu orangtua, berjalan kaki sejauh 10 km untuk sekolah, dan ketika mewakili lomba cerdas cermat, dia tidak melupakan tugas utama mencari kayu bakar dan berlatih, hasilnya membanggakan "Allah ada sesuai prasangka hamba-Nya dan jika yakin, maka peluang pasti selalu ada" (Halaman 181).

Korban dari perpisahan orangtua pastilah anak, anak menjadi terabaikan dan akhirnya jatuh dalam pergaulan gelap. namun tidak bagi anak yang tetap optimis memandang masa depan, meskipun dilanda Ujian Nasional dan permasalahan keluarga yang sanggup menggoncangkan mentalnya, dia tetap sabar dan bangkit berkat dukungan tantenya sehingga akhirnya memperoleh masa depan cerah. (Ujian saat Ujian, Halaman 167).

Ada juga berbagai kisah lucu dan konyol tentang pentas seni yang diharapkan dan tidak diharapkan karena malu *lho. maksudnya diharapkan karena itu pementasan hiburan untuk acara perpisahan dan kenaikan kelas, tapi tidak diharapkan karena ternyata mereka terlambat. maju mundur antara tampil atau tidak eh ternyata tampil dengan wajah merah menahan malu "Pentas yang menghebohkan". Selain itu ada cerita lucu saat enam perempuan sama-sama mengagumi satu lelaki sebagai "Pengagum Rahasia".

Kemudian ada kisah seru saat mengikuti Masa Orientasi Siswa (MOS),dimana kegiatan mengenal sekolah baru harus melalui bully dan senioritas, hukuman yang unik dan bikin malu menurut Saya ada bagusnya karena memberikan kenangan tak terlupakan, namun Saya tidak sepakat dengan tindakan yang kurang manusiawi hingga ambruk. Saya jadi ingat Hukum Kekekalan Panitia: 1. Salah atau benar Panitia tetap benar. 2. Jika panitia salah kembali ke pasal satu. hmm. Saya pernah menjadi panitia MOS dan Alhamdulillah tindakan yang kurang manusiawi telah diminimalisir terkait banyaknya korban entah pingsan hingga drop. karena banyak yang bisa dipelajari dengan cara dan tindakan yang tepat.

Banyak sekali kisah inspiratif yang terdapat dalam buku ini dan mungkin berlembar-lembar jika ditulis. buku ini dijabarkan dengan bahasa yang ringan dan mudah dipahami. mengangkat tema-tema yang humanis dan memotivasi. sangat cocok dibaca oleh berbagai kalangan, anak-anak hingga dewasa. namun tidak adanya ilustrasi membuat mata hampir jenuh melihat huruf berjejer, hahay. selamat berkarya terus ya Teh Meti.. :-)

Quote:
Jadilah orang yang mandiri, agar kalian dihargai....

Kutipan di atas adalah pesan seorang Ibu single parent yang harus membesarkan kesebelas anaknya sejak suaminya meninggal. beliau mengajarkan tentang perjuangan hidup, masa kecil mereka tidaklah seindah anak-anak seusianya. mereka harus bahu-membahu bekerja keras dan bekerja sama untuk tetap bertahan hidup dan mewujudkan impian mengenyam pendidikan tinggi, sehingga karakter mandiri dan tidak bergantung kepada orang lain terbentuk dalam hati anak-anaknya.

"Keterbatasan bukanlah hambatan, namun sebagai sentilan motivasi agar terus melangkah"




2 komentar:

Nurul Fitri Fatkhani mengatakan...

Buku itu ternyata menceritakan pengalaman murid-murid ya... seru sekali... :)

Zaqia Nur Fajarini mengatakan...

iya mbk kisah semasa i sekolah.....bgus