Minggu, 29 Maret 2015

Review Film: Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Pegang Teguh Komitmen

Cover
Membaca judulnya saja bisa ditebak pasti "Sad Ending" dan menguras air mata T_T. ini kali keduaku melihat Film yang diadopsi dari Buku Sastra "Buya Hamka" setelah sebelumnya "Di Bawah Lindungan Ka'bah" yang berujung haru namun alur ceritanya inspiratif dan seperti benar-benar nyata.

Film ini menceritakan tentang Zainuddin (Harjunot Ali), seorang pemuda Makassar yatim piatu yang ingin mendalami Agama di tanah minang-Padang, tanah kelahiran Ayahnya. namun apalah daya ternyata Adat begitu kuat dipegang hingga dia terusir hanya karena suatu alasan ketidakjelasan nasab dan melabuhkan hatinya pada Hayati (Pevita Pearce), Bunga Desa di Batipuh-Padang panjang.

Sebelum berpisah, Hayati telah mengikat dengan janji terikat sorban putih sebagai pengharapan besar bagi Zainuddin untuk menghalalkannya di masa yang akan datang, namun di tengah jalan Hayati tak mampu melawan adat istiadat hingga berkhianat dan berpaling kepada pemuda gagah nan kaya bernama Aziz (Reza Rahardian).

Hancurlah hati Zainuddin, disaat semua orang tak menganggapnya karena ketidakjelasan suku (Bugis-Minang) dan satu-satunya harapan berkhianat, dua bulan terbaring seperti orang mati suri. namun, berkat saran saudaranya yang bernama Muluk (Randy Danistha) akhirnya Dia bangkit dari keterpurukan dan hijrah ke Jawa untuk berjuang demi membuka lembaran baru. jalan berkarya melalui tulisan melahirkan karya yang di terima di masyarakat, suksespun diraih dan rodapun berada di atas.

Kondisi tersebut tak lama hingga jodoh mempertemukan Hayati dan Zainuddin kembali dalam perkumpulan warga minang di Surabaya dimana terdapat pertunjukan Opera "Teroesir" yang ditulis oleh "Z". terkejut pastinya. hingga Aziz mengalami bangkrut akibat judi dan mabuk, suami istri tersebut tinggal di ruang megah rumah Zainuddin.

Merasa bersalah akan masa lalu, Aziz ingin mengembalikan Hayati kepada Zainuddin, namun karena dendam terpendam, emosi, dan egois mengahntarkan zainuddin pada keputusan mengembalikan Hayati ke tanah kelahirannya Padang Panjang menggunakan kapal Van Der Wijck.

Menyesal selalu datang terlambat, tak disangka pertemuan tersebut adalah yang terakhir bagi mereka. Kapal terbaik milik Belanda itupun tenggelam saat melakukan perjalanan menuju Sumatera, saat hati kecil Zainuddin ingin kembali kepada Hayati atas surat mengharukan yang ditinggalkan, Selamat tinggal hayati.

Filmnya bagus banget dengan setting tahun 1930-an di mana Kepala Adat masih berkuasa dan hukum adat benar-benar dipegang teguh. banyak bahasa minang digunakan dalam film ini sehingga kita bisa menambah pengetahuan tentang multikultural Negeri ini. kemudian, hadirnya buku ini mampu menyatukan negeri ini, menghilangkan perbedaan dan kebencian, dan tercapainya keadilan. 

Quote:
"Tidak ada kebahagiaan terbesar melainkan kebahagiaan karena cinta".

"Kisah cinta Zainuddin dan Hayati dalam Buku Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck adalah kisah kebangkitan seorang Zainuddin yang jatuh berkali-kali namun memilih untuk bangkit."

Identitas Film:
Sutradara         : Sunil Soraya
Produser          : Ram Soraya, Sunil Soraya
Skenario          : Donny Dhirgantoro, Imam Tantowi
Buku               : Berdasarkan Tenggelamnya Kapal Van der Wijck karya Hamka
Pemeran          : Pevita Pearce, Herjunot Ali, Reza Rahadian, Randy Nidji
Tanggal rilis    : 19 Desember 2013, 11 September 2014 (versi extended)
Durasi             :165 menit, 210 menit (versi extended)
Negara Bendera: Indonesia Indonesia
Bahasa            : Indonesia, Minang, Makassar, Melayu, Jawa

2 komentar:

Dewi Rieka mengatakan...

penasaran pengen nonton ini, pengen tahu settingnya zaman dulu...kalau eritanya huhu pilu dehh..baru aja baca bukunya

Zaqia Nur Fajarini mengatakan...

Aq mlah blum mbaca novelnya mbk...hihi jgn lpa siapin bak sma lap y sapa tau banjir lokal hehe