Rabu, 18 Maret 2015

#SelfieStory: Bersyukur atas Kebersamaan Kita

Pertama kali membaca event lomba blog ini sempat bingung karena Aku paling jarang berselfie ria padahal hobinya jeprat jepret, namun setelah ubleg-ubleg notebook ternyata Aku pernah selfie juga eh tepatnya wefie dengan suami tercinta hihi. meskupun hasil fotonya kurang maksimal dikarenakan masih memakai handphone jadul dalam suasana pagi hari yang belum cerah, hasilnya agak gelap dech *padahal wajahnya emang gelap-gelap kereta api hihi.. Pengen pakai handphone bagus tapi nunggu paketan hadiah Andromax dari smartfren supaya bisa selfie dengan gambar yang jreng, (berdoa sambil komat kamit ah) dan sinyal tercepat buat uploadnya.

Seperti halnya setiap peristiwa perlu diabadikan melalui kamera, tentunya hasil jepretan juga menyimpan banyak cerita yang berkesan. entah suka, sedih, lucu, haru biru, marah, dan lain-lain. Foto-foto di bawah ini juga meyimpan lembaran kenangan yang patut Aku syukuri saat itu.

Dari dulu Aku memiliki impian untuk merasakan kehidupan nomaden ala zaman tempo dulu, istilahnya saat ini adalah traveling. Mengapa? karena selama ini hidupku berkutat antara Mojokerto-Malang saja. Aku ingin menjelajah Dunia, minimal Indonesia lah oke. Aku juga belum pernah naik Pesawat, menyebrangi lautan, singgah ke tempat-tempat yang belum pernah Aku datangi di luar Jawa. sampai-sampai Aku berkhayal dapat suami dari luar Jawa dan hidup merantau. 

Yes, akhirnya Do'aku terkabul. pada tanggal 09 Desember 2012 Aku menikah dengan pangeran dari Bali. itu kali pertama Aku menyeberangi laut setelah 26 tahun usiaku hihi, oooo ini tho Bali. Suami mengajakku wefie di Pantai Rening yang berada di Negara-Bali, tempat suami dibesarkan. sebenarnya pantainya bagus, namun kurang adanya perhatian dan perawatan dari investor maupun Dinas Pariwisata sehingga terlihat kotor, airnya agak keruh, banyak tanah yang terkikis. padahal dulunya bagus dan ramai pengunjung.

@Pantai Rening, Negara-Bali
Setelah itu, tepatnya tanggal 29 Januari 2013 setelah menikah, Aku harus mengikuti suami untuk merantau di wilayah Timur indonesia, yaitu Papua barat untuk mengabdi menjadi Guru. ternyata medan perjalanannya aduhai memacu adrenalin jantungku. ada plus minusnnya sebenarnya, plusnya Aku jadinnya perdana naik motor muluk (pesawat terbang), bisa jadi kalau tidak ke Papua tentunya belum merasakan yang namanya berada di awan hihi, katrok ya? Biarin ah.

@Sriwijaya Air Go Manukwari
Minusnya, karena berada di Pedalaman Papua Barat, Kami harus melanjutkan perjalanan melewati tebing curam yang langsung bersebelahan dengan lautan, gak usah dibayangin deh kalau tergelincir, ngeri pastinya. perjalanan harus ditempuh menggunakan mobil dengan roda bergerigi yang besar (contoh: Hilux) karena medan yang dilewati bebatuan dan lumpur, kebetulan dulu pas musim hujan jadinya becek ndak ada ojek deh, cape deh.

Perjalanan belum usai, tantangan masih berlanjut. setelah tiba di Kabupaten, kami harus menyeberangi lautan dulu selama kurang lebih 3-6 jam tergantung cuaca dan mesin perahu yang digunakan, sampai deh di Kampung Apung. banyak sekali dokumentasi di sana, tapi sayang aduh sayang bukan foto selfie, hiks.

Setelah sekitar 15 bulan berada di Aranday, Aku dan suami harus pulang ke Jawa karena persiapan melahirkan anak pertama Kami. sebenarnya bisa melahirkan di sana tapi Kami ingin anak pertama lahir di tengah-tengah keluarga besar Jawa dan Bali.

Banyak yang perlu dipersiapkan dan dipikirkan sebelum perjalanan mengingat usia kehamilan hampir 9 bulan. banyak yang menyarankan naik pesawat biar cepat sampai, tapi ndak ah karena resiko ditanggung penumpang kalau terjadi apa-apa di perjalanan. akhirnya dengan mantap Kami naik Kapal.

Perjalanan pulang dari perantauan justru lebih berkesan, seluruh perjalanan melewati jalur laut. banyak hikmah yang bisa Aku ambil dalam perjalanan ini:

Pertama, ini perjalanan pertamaku saat hamil. resiko membawa dua nyawa dengan stamina yang harus kuat menjadi tantangan tersendiri bagiku. bersyukur adek dalam perut tetap sehat

Kedua, lebih menikmati perjalanan dengan fasilitas yang nyaman seperti hotel, lebih santai menikmati sunset dan sunrise dalam perjalanan Kami menambah rasa syukur betapa luasnya perairan ini.

@Deck 8 Kapal Labobar menikmati panorama laut
Ketiga, Lumba-lumba dan ikan terbang turut mengiringi perjalanan kami menambah indahnya panorama air saat siang dan sore hari.

Keempat, mampir Makassar and welcome Losari Beach. akhirnya Saya menginjakkan kaki di Pantai ini dan meninggalkan jejak foto wefie bersama suami. meskipun hanya singgah selama 6 jam namun Saya puas ndak puas sih. karena belum mampir Transstudio dan Rotterdarm. merasakan apa yang belum pernah dirasakan.

@Pantai Losari-Makassar
Okey, cukup dulu cerita selfie yang bisa Aku sampaikan. ingin melakukan perjalanan kembali ke tempat dan wilayah yang belum pernah Aku datangi untuk meninggalkan  jejak dan menuangkan dalam sebuah tulisan. semoga deh, Amin. sekali lagi Aku bersyukur pernah berada di Papua Barat dan meninggalkan jejak pengabdian.

4 komentar:

HM Zwan mengatakan...

uwaa seru banget,nggak kebayang aja diirinagi lumba2 perjalannnya,pasti seru^^

Zaqia Nur Fajarini mengatakan...

iya mak....tpi g bsa dfoto kalah sma cahaya matahari di tengah laut...

Nurul Fitri Fatkhani mengatakan...

akhirnyaaaa...bisa keliling Indonesia juga ya...meski baru bagian timurnya... he..he..

Zaqia Nur Fajarini mengatakan...

Alhamdulillh mbk...ntar lagi keliling bagian Tengah deh, Amin