Minggu, 22 Maret 2015

Totto-Chan: Gadis Cilik di Jendela, Solusi Mendidik dengan Bersahabat Bapak Kobayasi

Cover By Wikipedia
Seneng banget dapat buku pinjeman yang akhirnya jadi hadiah hehe....dasar emak yang suka gratisan ala *MakIrits haha. Totto-Chan, Aku suka banget buku tentang cara mendidik anak atau murid untuk pembelajaran karena Ibu adalah Guru utama bagi anak.

Buku Totto-Chan mengisahkan tentang Pola pendidikan di Sekolah "Tomoe Gakuen" yang dipimpin oleh Sosaku Kobayasi dan didirikan pada Zaman Perang Dunia II lalu, sekitar tahun 1981. Berawal dari Tetsuko yang dikeluarkan dari sekolah sebelumnya dikarenakan di cap sebagai "Anak Nakal" padahal dia hanya merasa tertarik dengan apa yang berada di luar jendela.

Kemudian, Dia dan Ibunya menemukan sekolah yang unik dan beda dengan yang lain baik dari bentuk ruang kelas maupun pola ajar pendidikannya. karena Kepala Sekolah, Bapak Kobayasi ingin mendidik muridnya menjadi generasi berkarakter yang tidak hanya dijejali teori. dari awal pertemuan, Totto-Chan sudah tertarik dengan sekolah, karena Kepala Sekolah bisa mengambih hatinya dengan cara mendengarkan seluruh cerita Totto-Chan hingga tuntas. Persahabatan antara warga sekolah dengan murid-murid tentunya memberikan dampak positif bagi perkembangan anak.

Ada beberapa alasan Mengapa Totto-Chan dianggap berbeda (Aktif):

  1. Suka membuka dan menutup meja yang berfungsi untuk menyimpan perlengkapan sekolah sehingga mengganggu konsentrasi belajar.
  2. Suka berdiri di pinggir jendela dan memanggil setiap pengamen yang lewat untuk bernyanyi, sehingga kelas ramai dan kacau.
  3. Berbicara dengan burung Walet yang berada di pohon dekat jendela.
  4. Saat menggambar bendera Jepang, dia malah menggambar Angkatan laut dan menggambar di meja, Al hasil kotor oleh crayon.
  5. Suka menyusup kebun orang dan merayap di bawah kawat berduri sehingga bajunya sobek.
  6. Suka meletakkan gunting di mulut, dan suka menyimpan karcis kereta.
Amazing kan sifatnya, terutama Dia seorang gadis bisa dibayangkan butuh Guru super sabar hehe Sedangkan pola pendidikan yang diterapkan di "Tomoe Gakuen (Simbol koma hitam dan putih yang membentuk lingkaran sempurna)" coba Aku uraikan ya:
  1. Ruang kelas berada di gerbong kereta dengan pemandangan pohon di luar kelas yang bergoyang saat diterpa angin.
  2. Makan siang wajib di Aula dan harus membawa bekal dari gunung dan laut (sayuran dan hewan).
  3. Boleh duduk sesuka hati, di manasaja dan kapan saja.
  4. Sistem pelajaran: Guru membuat daftar pertanyaan mengenai hal-hal yang diajarkan hari itu, kemudian Guru berkata "mulailah dari apa yang kalian suka", murid yang suka mengarang langsung mengarang, yang suka Fisika langsung percobaan, dan lain-lain.
  5. Tujuan pembelajaran: Guru bisa mengamati sejalan dengan waktu ketika mereka di kelas tinggi tentang minat, cara berpikir, dan karakter mereka. ini cara ideal untuk mengenal murid karena belajar dari apa yang disukai itu menyenangkan.
  6. Sistem belajarnya bebas dan mandiri. murid bebas berkonsulitasi dengan guru kapan saja dan guru menjelaskan hingga murid mengerti, lalu mereka diberi latihan lain untuk dikerjakan sendiri. itulah sistem belajar yang sbenarnya, tidak ada murid yang menganggur sembari guru menjelaskan, hmmm beda ya sama di negeri kita hehey.
  7. Setelah makan siang diadakan jalan-jalan istilahnya pendidikan alam, belajar sambil jalan-jalan
  8. Harus ada lagu atau jargon dan yel-yel kelas sebagai penyemangat belajar.
  9. Jika murid bersalah tidak langsung dimarai melainkan melihat dan menganalisis dahulu apa yang terjadi (ex:kisah Totto-Chan saat menguras seluruh isi WC demi menemukan dompetnya).
  10. Liburan diisi dengan kemah di Aula supaya aman dan nyaman diiringi cerita menarik dari Kepsek.
  11. Lebih banyak mengajarkan musik terutama euritmik (olahraga yang menghaluskan mekanisme tubuh, menggunakan dan mengendalikan tubuh, raga dan pikiran memahami irama sehingga menjadi pribadi yang ritmik kuat, indah selaras dengan alam dan mematuhi hukum).
  12. Belajar menulis not di lantai dengan kapur, kemudian menghapusnya setelah selesai.
Masih banyak lagi kisah menarik dalam buku ini yang jelas kental akan budaya jepangnya, dijelaskan pula mengapa Tetsuya dipanggil Totto-Chan, banyak istilah Jepangnya. Sayangnya sekolah ini telah runtuh berganti supermarket Peacock.

Saatnya sebagai guru maupun orangtua hendaknya mendidik dengan bersahabat namun tetap beretika, mereka yang berbeda tentunya akan berhasil dengan penanganan tepat. susah-susah gampang memang. ^_^


Identitas Buku:



Format              :Soft Cover
ISBN                 : 979220234X
ISBN13             :9789792202342
Tanggal Terbit  :Januari 2003
Penulis              : Tetsuko Kuroyanagi
Bahasa              :Indonesia
Penerbit            :Gramedia Pustaka Utama
Halaman           :271
Dimensi            :135 mm x 200 mm
Harga                : Gratis hehe

2 komentar:

Nurul Fitri Fatkhani mengatakan...

seandainya pendidikan di Indonesia banyak yang menyenangkan seperti itu ya mbak..

Zaqia Nur Fajarini mengatakan...

Amin...iya mbk biar tidakk kognitif saja yang diutamakan....ya