Rabu, 10 Juni 2015

Sebagai Orangtua, Hindari Sikap Mematikan Kreativitas Anak!

Kemarin, di media sosial dan pemberitaan di televisi,  dunia Pendidikan digemparkan dengan pemberitaan hilangnya dan ditemukannya Angeline dikubur di belakang rumah. salah satu siswi pendiam dan tertutup di SD Negeri 21 Denpasar. menurut wali kelasnya, Angeline terlihat kurus dan kotor, setiap ditanya mulutnya selalu terkunci hingga mengundang rasa empati guru dan teman-temannya. kabarnya dia sering terlambat karena harus memberi makan ayam sebanyak 50 ekor dan berjalan kaki menuju sekolahnya, mengejutkan bukan? padahal dia tinggal bersama ibu angkatnya.

Fenomena gunung es yang sedikit demi sedikit mencair dan muncul di permukaan, setelah sebelumnya ada kasus sodomi pada anak Sekolah Dasar International, pembunuhan dan penyiksaan yang dilakukan orangtua kandung maupun angkat kepada anak-anak hingga menyisakan luka lahir dan batin selamanya. hati nurani yang kian lama kian terkikis.

Miris memang! dan entahlah mungkin itu bentuk kasih sayang untuk anaknya, tapi apakah dengan cara memilukan? coba jika selaku orangtua kita berpikir kapasitas kekuatan yang dimiliki anak seumur SD seperti itu?

Indonesia memiliki adat budaya yang berbeda dalam mendidik anak-anaknya, dari Sabang hingga Merauke memiliki karakter yang membenarkan didikan terbaik untuk anak-anaknya. namun kebanyakan orangtua menganggap anaknya adalah dia di masa lalu, Paradigma yang Keliru!


Sayyidina Ali berpesan bahwa sebagai orangtua, kita tidak harus memaksakan dan memberikan perlakuan seperti kita di masa lalu,  karena mereka lahir di zaman sekarang yang jauh berbeda, apakah kita iri? atau merasa benar dengan didikan orangtua sebelumnya? bisa dijawab sendiri. yang jelas perlakuan yang baik bisa ditiru dan yang tidak baik ditinggalkan. siapa sih orangtua yang tudak ingin anaknya berhasil sesuai keinginan kita? asal jangan dengan paksaan dan siksaan.

Menurut KPAI, berikut sikap-sikap yang harus dihindari saat mendidik anak karena bisa mematikan kreativitas anak, menjatuhkan bukan malah mengembangkan pribadinya, dan tidak percaya diri:
  1. Memarahi di depan umum. malu pastinya ketika anak dimarahi di depan umum dengan makian-makian bahkan pukulan yang tak patut dipertontonkan. akibatnya perubahan karakter semakin sulit.
  2. Membanding-bandingkan. "Every child are Special" setiap anak memiliki tingkat perkembangan dan karakter yang berbeda-beda. membandingkannya dengan anak yang lain tidak akan merubahnya menjadi unggul melainkan merasa tidak dihargai.
  3. Menutup Kesempatan Berpendapat. sering dimarahi atas kesalahan berdampak pada ketidakpercaya dirian pada anak, mereka takut salah dan sulit mengungkapkan pendapat karena tajut salah dan jarang diberi kesempatan untuk berbicara.
  4. Meminimalisir HAK anak. anak memiliki hak untuk bermain dan bersosialisasi dengan lingkungan, namun terkadang orangua membatasi karena beberapa alasan. anak juga membutuhkan waktu istirahat, belajar sesuai porsi kemampuan. tentunya semua terjadwal tanpa paksaan sehingga dampaknya juga baik.
Saat ini banyak sekali seminar parenting guna memberikan didikan yang terbaik sebagai orangtua secara idealis namun tetap humanis dengan senyum manis. tulisan ini juga sebagai renungan dan pembelajaran bagi saya selaku orangtua.


2 komentar:

Dewi Rieka mengatakan...

bagus banget nih mba artikelmu, kadang ngga sadar banding2in hiks...makasih yaa sharingnyaa

Zaqia Nur Fajarini mengatakan...

mbk dewi: sama2 mbak aq kadang juga suka gtu makanya artikel ini jga pngingat buatkuw.. hmm