Jumat, 27 November 2015

Review Novel Sarvatraesa, Sang Petualang: Perjuangan Cinta dan Cita-cita dalam keikhlasan

cover By: goodreads
Keterangan: 

Judul                       : Sarvatraesa, Sang Petualang
Penulis                    : Dian Nafi
Penerbit                  : Diandra Pustaka Indonesia
Tahun Terbit         : November, 2013
Jumlah Halaman   : 158 halaman

Sinopsis:


Tidak ada yang lebih mengganggu daripada rasa kepenasaran.
Tidak ada yang lebih melukai ketimbang rasa dikhianati setelah memberi kepercayaan. Tidak ada yang lebih ditunggu kecuali balasan rasa cinta yang telah penuh diberikan dan membutuhkan setidaknya penerimaan.

Sarvatraesa. Dia yang berasal dari keluarga sederhana, merasa tertohok harga dirinya ketika keluarga sang profesor mengungkit kembali latar belakangnya. Meskipun benar Sarva tampan dan cerdas, dia bukanlah siapa-siapa jika bukan keluarga sang profesor yang mengangkat derajatnya.

Dia berusaha mencari kehormatan bagi dirinya sendiri dengan melepaskan bayang-bayang mertuanya. Dia pergi ke Aceh, juga ke Ambon. Mengabdikan diri sebagai dokter tentara di daerah yang penuh silang sengkarut itu. Istri dan anaknya di Jakarta sesekali ditengoknya.

Di Aceh maupun di Ambon, Sarvatraesa terlibat cinta dengan perempuan lain. Davina meradang dan berharap jika Sarva hendak menikah lagi, dia rela berbagi tetapi hanya dengan Mayana. Karena Davina tahu Mayanalah cinta pertama Sarvatraesa dan saat ini sudah menjanda. Yang menghabiskan seluruh rasa lelaki itu sehingga tak bersisa untuk siapapun, kecuali petualangan-petualangan. namun, Mayana menolak permintaannya.

Review:
Sebelumnya saya berterimakasih kepada mbak Dian Nafi atas pemberian buku "Sarvatraesa" ini dan kesempatan mereviewnya. pertama kali mendapat hadiah ini, jujur saya kurang suka cover bukunya yang gelap, apakah karena faktor alur ceritanya yang menunjukkan petualangan Sarvatraesa tentang cinta dan harga diri yang dilingkupi perjuangan berada di daerah konflik ya?

Namun, judulnya yang unik membuat saya penasaran untuk membuka lembar demi lembar isi novel ini. boleh tahu mbak untuk nama Sarvatraesa, idenya terinsiprasi dari mana kah? 

Novel ini menceritakan tentang perjuangan Sarva untuk mendapatkan cinta pertamanya sejak Sekolah Menengah, Mayana. seorang gadis pintar dan kaya yang ada di kampung tempat Sarva tinggal. awalnya hanya cinta untuk mendompleng kekayaan namun, karena sifat apik yang berujung penasaran dari Mayana menjadikan cinta Sarva berubah menjadi cinta yang tulus dan suci.

Namun, Mayana selalu menolak cinta Sarva hingga Sarva membuat keputusan besar untuk menikahi Davina tanpa cinta. dia merasa dikhianati dan ingin membalas dendam kepada Mayana. dia ingin menunjukkan bahwa dia adalah lelaki yang layak dijadikan primadona baik karena sifat maupun prestasinya.

Di tengah perjalanan kesuksesannya hadir konflik dengan mertua dan gejolak hatinya yang selalu mengingat Mayana. akhirnya Sarva memutuskan untuk menenangkan diri, mencari jati diri, dan memperbaiki harga dirinya dengan cara melakukan petualangan dan perjuangan sebagai dokter di daerah konflik Aceh dan Ambon. Dia mengabdi dengan tulus ikhlas, banyak yang senang dengan kepribadiannya menolong korban baik kesehatan maupun pendidikan anak-anak pengungsian. kecewanya, diapun terjerat dalam cinta semu, dia mempermainkan banyak wanita yang semuanya bisa dia dapatkan, kecuali seseorang, Mayana.

Hingga kejenuhannya mulai memuncak, dia stress karena Mayana, dia tahu Mayana menjanda dan ingin mendekatinya kembali. namun, Mayana menolak, bahkan ketika , Davina sang istri yang memintanya.

Endingnya bahagia, saya suka karena akhirnya hubungan Sarva dengan Davina, Ayah mertua, dan Mayana membaik dan cita-cita Sarva untuk mendirikan Rumah Sakit juga tercapai. pada akhirnya Sarva menyadari bahwa tiada yang lebih indah selain berkumpul dengan anak dan istrinya, serta cinta tidak harus memiliki namun sebagai kenangan manis dalam hati sebagai penguat diri dalam kesetiaan terhadap pasangan.

Dalam novel ini banyak terdapat filosofi dan kalimat-kalimat filsafat karena Sarvatraesa dikenal sebagai lelaki cerdas yang mampu berdiplomasi dan berdialeg menggunakan ungkapan-ungkapan yang diucapkan. selain itu, penulis bisa menghadirkan alur yang apik sehingga pembaca ingin segera menamatkan lembar demi lembar novel tersebut.

Beberapa kutipan yang saya suka adalah:
"Kalau menyayangi karena kebaikannya dan melupakan karena keburukannya, itu namanya pamrih. kalau menyayangi yang baik tapi menepis yang tidak baik, itu pilih kasih namanya"
 "Mari kita berbagi dengan yang sedikit, dengan berbagi maka semua akan terasa lebih baik dan bermanfaat bagi orang lain selain itu dengan berbagi akan mengurangi keslahpahaman"
"putusnya aku dan dia ibarat nun mati bertemu ha' yang disebut dengan idhar, artinya bisa dibaca terpisah dan jelas"
"Ketika kamu kuat dalam kesenangan namanya syukur, tapi kalau kamu kuat dalam derita itu namanya sabar"

Selamat membaca ya readers...... sekian dulu reviewnya ^_^




Hidup itu Pilihan, Keputusan, Tantangan, dan Selesaikan

Pernahkah anda berada pada posisi dimana anda sangat menyesal dan bersalah dengan keputusan yang telah diperbuat, rasanya ingin mengulang waktu kembali ya? apa yang anda rasakan, drop atau bangkit? kemudian bagaimana solusi agar bisa move on?

Pernahkah juga anda membaca dan mendengar para tokoh inspiratif, profil orang sukses pernah membuat keputusan diluar dugaan yang tidak pernah disesali, namun "disayangkan" kata orang lain.
"Masa lalu adalah pelajaran, saat ini adalah ikhtiar, dan masa depan adalah tantangan"
Menyesal memang pernah saya rasakan, namun bukan berarti selamanya menjadikan hati kelam. saya tahu resiko dari apa yang diputuskan dan solusinya harus dijalani dan berproses untuk membuktikan bahwa keputusan saya memang benar.

Pernah dulu waktu saya memutuskan untuk keluar dari Universitas Negeri ternama di Malang, keluarga shock, teman-teman bingung, tetangga juga ikut nimbrung kepo dengan keputusan saya pindah ke Swasta "emane masuk negeri sudah susah, biaya murah, malah pindah ke Swasta yang kebalikannya". seperti disidang dalam pengadilan keluarga, sayapun tetap kekeuh ingin pindah. dalam hati, saya yakin akan keputusan tersebut. saat masa sulit saya adalah pulang kampung dan selalu disindir kalau....andai...dan jika, penyesalan tampak dari mimik wajah beliau. namun saya bertekad membuktikan bahwa saya benar. Alhamdulillah dalam perjalanan akademik di Universitas nilai dan prestasi senantiasa mengiringi hingga kelulusanku.

Allahlah yang memegang kendali saya, pasti ada hikmah dari semuanya. belum tentu saat kuliah di Negeri saya bisa mengenal dan memahami karya ilmiah, menjadi asisten laboratorium, dikenal dosen hinggi menjadi pembimbing anaknya, bahkan menemukan jodoh hahay.

Kemudian keputusan kedua, saya ingin berkarir di Malang, namun orangtua meminta kembali ke rumah. watak keras saya akhirnya bisa dimengerti dan memang saya bisa membuktikan bahwa saya bisa survive dan menabung dari uang guru kontrak dan mengajar privat, memperoleh banyak keluarga baru, dan have fun bersama anak-anak SD.

Keputusan berikutnya adalah menikah dan menjadi guru kontrak di pedalaman. keputusan mengikuti suami ke Papua Barat menuai pro dan kontra terutama dari pihak keluarga saya, namun saya tetap menjalani dan menunjukkan bahwa kami baik-baik saja di sana. banyak pengalaman dan pembelajaran tentang syukur kami dapatkan di sana. kami bisa bertahan dan Alhamdulillah hamil hingga pulang kampung untuk melahirkan terasa lancar. desakan orangtua saya untuk tidak kembali ke Papua akhirnya meluluhkan suami dan saya tinggal di Mertuaa-Bali.

terpisah jauh dengan suami ternyata memberikan hikmah bagi saya tentang arti kebersamaan, selain itu saya bisa mengikuti pelatihan blog dan mengenal dunia blog sampai sekarang.

Keputusan yang baru-baru ni saya buat adalah memulai dari nol di tanah Bali. belajar mandiri dari nol di tanah bali, akhirnya suami memtuskan untuk tetap tinggal dan mengabaikan mimpinya menjadi guru disini. karena penuhnya guru IPA dan sedikitnya honor guru menjadikan suami harus berpindah haluan demi anak dan istri. salut dengan keberanian dan keikhlasannya, saya tahu ada gejolak di jiwa saat harapan dan impiannya belum terwujud. namun, saya yakin ada jalan di depan yang akan mengantarkan kami kepada kesuksesan.

kami harus sabar, setitik demi setitik suatu saat akan membentuk sebuah garis yang terhubungkan oleh semangat ikhtiar, do'a, dan kesabaran. rasa syukur ketika kami bisa berkumpul bertiga dan saat ini mengontrak rumah untuk melatih kemandirian, melihat perkembangan Faiza yang semakin pintar bersama-sama sungguh menjadi kebahagiaan tersendiri.

Dalam waktu berikutnya, kita akan melalui dengan keputusan-keputusan berikutnya yang akan menuai kritik, tangis, dan perjuangan. selanjutnya siapa yang paling kuat dialah yang lulus.

Pendaki yang sampai ke puncak hanyalah yang tangguh, pejuang yang sampai ke kesuksesan hanyalah yang sabar. kita diberi pilihan menjadi manusia yang mudah rapuh oleh tantangan atau justru menghebat seiring hebatnya rintangan . Percayalah, badai selalu menyisakan pohon yang terkuat, By: Ahmad Rifai Rif'an




Sabtu, 21 November 2015

Garam itu Suatu Saat Pasti Menjadi Berlian

Saya Punya Murid di Aranday-Papua Barat
“ Ketika mimpimu yang begitu indah tak pernah terwujud, ya sudahlah”. Sebaris lagu yang dipopulerkan oleh Bondan sangat pas dengan apa yang aku rasakan saat ini. Banyak impian-impian yang telah tersusun dalam fikiran, namun tidak semua bisa terwujud atau bahkan belum satupun yang nampak nyata dalam kehidupan kita.

Ketidakterwujudan impian bukanlah hal yang wajib diratapi sekian lama, ya sudahlah seperti itu hasilnya karena manusia hanya bisa merencanakan tapi kuasa Allah yang berhak menentukan bagaimana dan seperti apa akhir perjalanan hidup hamba-Nya. Bukan patah semangat tapi Allah telah melihat sampai mana ketabahan ikhtiar kita sampai kita bisa tersenyum untuk mewujudkan impian tersebut. Keberhasilan datang berdasarkan usaha yang telah dilakukan, yakin selalu bahwa setelah kesulitan pasti akan datang kemudahan.

Roda kehidupan selalu berputar dalam sirkulasi bumi ini yang pasti dialami oleh setiap makhluk bernyawa. Hidup akan terasa flat tanpa ujian dan hambatan, tidak variatif, bahkan tidak membekas dalam hati. Roda kesuksesan dan kegagalan saling beriringan memberikan warna pelangi masa depan kita, tak terkecuali aku.

Impianku lima tahun lalu yang hampir semua tercapai saat kuliah, kesuksesan yang mengiringi, kemudahan mengikuti. Cita-citaku sampai saat ini yang belum tercapai adalah melanjutkan pendidikan selanjutnya di Negeri orang dan mengajar di sekolah yang high class dan elit, keliling dunia, dan memuliakan orangtuaku di masa tuanya. Sebaliknya saat ini Allah mempercayakan aku untuk mengabdikan ilmu di kawasan pedalaman yang jauh dan tidak pernah tersentuh media sekalipun, mungkin roda hidupku saat ini sedang berada di bawah.

Sebelumnya aku menjadi pendidik di sekolah swasta elit yang terletak di tengah-tengah Kota, fasilitas lengkap, gaji lumayan, murid yang rapi-rapi dengan mengendarai mobil, transportasi dan komunikasi lancar, listrik 24 jam, air bersih sampai terbuang-buang, aneka makanan minuman tercecer, bahkan tempat-tempat hang out tidak terkira, tempat wisata mempesona, begitu sempurna rasanya tanpa ada celah. Namun dimanapun kita bekerja selalu ada tantangan untuk memberikan warna warni semangat dalam bekerja.

Tantangan mengajar di Kota lebih kepada para siswa yang justru mayoritas pintar-pintar sehingga sedikit menyepelehkan ilmu yang disampaikan guru, selain itu teknologi canggih sangat mempengaruhi interinsik dan eksterinsik karekter siswa zaman sekarang, sehingga guru juga dituntut untuk mengikuti selera murid agar tidak dijuluki guru “GAPTEK” (Gagap Teknologi). Ghazwul Fikri semakin jelas harus dilakukan karena pengaruh fun, food, fashion terlalu mudah diakses tanpa bisa dihhindari. Perlu benteng Agama dan pengawasan intensif dari lingkungan terutama keluarga.

“Kemanapun suami bertugas, istri selalu mendampingi”. Kalimat tersebut mengingatkanku pada film “Habibie Ainun” yang begitu sempurna dalam berumahtangga, istri siap meninggalkan negerinya, mengorbankan gelar dokternya untuk melayani suami dan anak-anaknya, cinta mereka begitu besar hingga kedua hati mereka telah melebur jadi satu. Kita semua pasti juga seperti itu dan memang wajib tak terkecuali aku, akhirnya mengikuti suamiku yang bertugas di pulau paling Timur Indonesia yaitu Papua.

Inilah saatnya aku mengemban tugas pengabdian yang sebenarnya, semua telah terfikirkan dengan matang walau masih ada setitik keraguan untuk merantau ke Papua. Aku dan suamiku terpilih menjadi guru kontrak di salah satu Sekolah Dasar Inpres Pedalaman Aranday-Papua Barat. Segala keraguan akhirnya kikis oleh ucapan seorang sahabat yang sekaligus alumni Psikologi: “hidup ini adalah pilihan “ dan setiap pilihan mempunyai resiko masing-masing, jika kamu siap dengan segala resikonya maka hilangkan keraguan. Bukankah Rosulullah pernah bersabda “Ketika kamu dalam keragu-raguan, maka tinggalkanlah”.

Menjadi guru di daerah pedalaman sangatlah bertolak 180 derajat dari sebelumnya. Sekolah disini berdiri diatas air alias rumah panggung yang terkadang banjir akibat terkena air pasang, listrik hanya enam jam, buku paket minim, lingkungan yang tidak higienis, murid-murid ada yang harus menggunakan perahu untuk bersekolah atau melewati hutan, fasilitas kurang, transportasi ke Kota harus menyebrangi lautan hampir tujuh jam menggunakan longboat atau jolor.

Ada kekurangan pasti ada kelebihan, kelebihannya adalah seluruh pendidikan disini gratis alias bebas tanpa membayar sepeserpun. Murid-murid disini juga bervariasi, ada yang berasal dari pendatang Jawa, Makassar, Toraja, Medan hingga penduduk asli beragama Islam.

Tantangan paling berat adalah bagaimana mengajarkan “Calistung” kepada murid yang memang membutuhkan, sulitnya memprediksi apakah siswa tergolang Berkebutuhan Khusus atau tidak. Kurangnya media dan fasilitas yang bisa mendongkrak semangat belajar mereka. Mereka lebih suka bekerja fisik daripada harus berfikir mencari ilmu, yang penting “sa pu perut kenyang ee”. Perlu waktu untuk merubah mindset mereka menjadi motivasi demi masa depan.

Awalnya terasa berat, namun seperti kata pepatah “witing tresno jalaran soko kulino” dan “Tak kenal maka tak sayang” ternyata benar- benar terjadi. Kulupakan segala keluh kesahku berganti semangat untuk melakukan perubahan karena Mengasah besi menjadi pedang lebih membanggakan daripada Mengasah pedang yang sudah mengkilat. Ternyata dalam lautan garam yang asin tersimpan berlian-berlian yang mempesona. Banyak juga murid asli Papua yang memiliki potensi di bidang seni, olah raga, maupun Ilmu Pengetahuan.

Siswaku yang menderita penyakit kekurangan pigmen (Albino), meskipun kesulitan menerima materi karena matanya silau ketika siang hari, dia bisa menunjukkan bakat melukisnya yang memukau. Ada lagi siswaku yang menderita kusta kering, dia berhasil menunjukkan bakat dalam cerdas cermat tingkat Kabupaten. Kekurangan bukanlah penghambat kretifitas, namun kreatifitas itu sering muncul dalam keterbatasan seseorang.

Akhirnya aku menyadari dan mulai beradaptasi dengan hidupku saat ini. Allah pasti memiliki rencana hebat untukku dan aku yakin sepenggal kisahku di pedalaman ini adalah awal terwujudnya cita-citaku yang sempat tergeser. Berikan pengabdian terbaik disekitar kita kapanpun itu dan selalu berusaha menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang-orang disekitar kita seperti tertulis dalam sebuah hadist “Orang yang paling beruntung dan bahagia adalah orang yang bisa bermanfaat bagi sesama”. Aku yakin garam itu akan menjadi berlian suatu saat nanti. Amin Ya Rabb



Rabu, 18 November 2015

Membaca untuk Menulis

Aku dan Buku
Sebulan sudah saya absent dari dunia blogger karena harus menyelesaikan job sebagai copywriter, selain itu sempat patah semangat juga karena sudah sering ikutan lomba tapi ndak menang-menang hihi modus ya....

Nah, sekarang mencoba bangkit kembali hunting lomba-lomba blog lagi, do'a dan ikhtiar semaksimal mungkin. okey, sekarang ingin ikutan Sanwa Comeback Giveaway dengan tema kegiatan yang paling disukai selama ini beserta alasannya. sejujurnya diantara semua tema itusaya sukai dan ingin sekali saya kuasai, namun sudah mundur duluan karena merasa diri tiada bakat di bidang-bidang tersebut terutama dalam bidang design dan handicraft hahay. ketika mengetahui salah satu tulisan teman yang dimuat di majalah atau menang lomba, rasanya hati ini pengen berpacu untuk mencoba. ketika banyak buku terpajang di perpustakaan ingin sekali terbaca habis. dan kegiatan yang sering saya lakukan adalah membaca berbagai macam genre buku.
"Bacalah, dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan"              Qs. Al-'Alaq ayat 1
 Namun semua ada masanya memang, mulai SMP saya suka membaca majalah Annida, UMMI, Tarbawi, Novel Islami, dan Novel Remaja karena kakak pertama aktif di ROHIS dan suka membeli buku-buku tersebut. kalau buku tentang Fiqih Sunnah dan Sirrah Nabawi masih terasa berat temanya untuk saya baca saat itu, buku-buku pelajaran tetap terbaca meskipun tidak secepat membaca buku genre lain. ketika SMA, saya memiliki teman yang suka menyewa buku komik dan novel dari luar negeri, biasanya suka saya pinjam bahkan saya juga mendaftar menjadi member di tempat persewaan buku. novel tebal pertama kali yang saya baca saat itu adalah Harry Potter karya JK. Rowling.

Perubahan kembali terjadi saat saya memasuki dunia perkuliahan, dimana saya harus dituntut untuk memiliki wawasan luas, wawasan tersebut bisa didapat jika kita suka membaca buku dan membaca lingkungan sehingga kepekaan terhadap berbagai peristiwa yang terjadi disekitar kita bisa muncul. selain itu berawal dari keterpaksaan menjalankan tugas wajib berupa karya ilmiah menuntut saya untuk terus banyak membaca bukti sebelum menuliskan ide dan menyadarkan saya bahwa menulis bukanlah bakat, melainkan diasah dan dilatih hingga terbiasa. kegiatan membaca dan menulis adalah satu kesatuan yang tidak terpisah.
"Jika ingin menjadi penulis, maka membacalah. Jika ingin menjadi pembaca, maka tulislah apa yang kita baca sebagai tindakan mengabadikan pengetahuan baru" By:Me
 Saat ini, saat saya telah bekerja dan berumah tangga. semakin banyak genre buku yang saya baca guna meningkatkan pengetahuan dan sebagai pemacu bahwa suatu saat saya harus bisa menghasilkan buku solo, karena selama ini hanya menulis antalogi. buku yang sering saya baca lebih pada ilmu parenting, embentuk keluarga sakinah, buku How to, dunia memasak, buku pendidikan, kisah inspiratif, buku muhasabah, dan lain-lain.

Membaca menjadi kegiatan yang tidak membosankan, kawan yang tidak pernah protes namun nasehatnya begitu nyata tanpa dibuat-buat, bisa memberikan semangat, tawa dan tangis di dalamnya. membaca bagai berenang di lautan ilmu tanpa batas. namun tetap semua harus disaring dan ditelaah dampaknya bagi pembaca. karena saat ini bacaan komik yang lucupun bisa memberikan dampak buruk bagi pembaca, tetap selektif selalu.

Happy Reading and Writing All

Senin, 16 November 2015

Hujan Bahagia Kami

Sejuknya setelah Hujan
Hujan, aku senang sekali mendengar satu kata dengan lima huruf ini. banyak peristiwa bahagiaku diiringi dengan tumpahan air dari langit hingga membasahi relung jiwa yang dilanda bahagia, aroma cinta yang khas setelah datangnya hujan begitu membahagiakan kami yang akan memulai untuk berlayar dalam kehidupan rumah tangga.

Mungkin Tuhan sudah merancanakan begitu Berkahnya hubungan kami, saat pertemuan pertama, saat menerima hatinya, menghalalkan hubungan kami, merencanakan buah hati kami, hingga perjalanan penuh perjuangan demi kelahiran buah cinta kami, semua diiringi hujan. meskipun sempat menghambat dan membuat kami khawatir, terutama saat berada di lautan luas, di tengah perjalanan menggunakan perahu tanpa atap. namun semua berubah menjadi keberkahan dan kebahagiaan ketika sudah sampai ke tempat tujuan.

Sejak saat itu, kami begitu akrab dan berharap musim hujan segera datang kembali membawa bahagia dan keberkahan baru, memberikan secercah harapan kepada seluruh negeri yang tertimpa kemarau panjang saat ini. Sarang Bi (Cinta Hujan: bahasa korea).




Pantai Rening-Bali Tiga Tahun Lalu dan Sekarang

Sebenarnya ini kali kedua aku berkunjung ke pantai Rening-Bali, sebelumnya ke sini saat awal pernikahan kami dan sekarang kami berkunjung setelah bertambahnya personil junior "Faiza". kondisinya juga berbeda dengan 3 tahun lalu saat aku berkunjung pertama kali.
kondisi pantai rening 3 tahun lalu
Pertama kali berkunjung sungguh disayangkan kondisinya, pantai yang mulai terkena abrasi, sampah berserakan, batu-batu besar tidak tertata rapi, tempat penginapan dan persinggahan sudah tutup karena sepi pengunjung, tidak ada pedagang, sepi deh apalagi kemarin kami berkunjung di pagi hari, tidak menarik. kata suami, dahulu pantai Rening sangat ramai dikunjungi oleh wisatawan dari berbagai daerah, hingga ada hotel yang diberi nama "Hotel Papua". karena kemudian pengelolaannya yang kurang baik, lama kelamaan tempat wisata ini tidak bisa dipertahankan. sesekali saja masyarakat terdekat berkunjung. 
bebatuan telah berubah menjadi pagar beton
Beberapa waktu lalu, sore hari, tiada rencana wisata tiba-tiba suami minta di jemput dari tempat kerjanya dan memintaku membawa bekal makanan serta mempersiapkan Fafa pakaian yang nyaman untuk di pantai. "Mama, kita ke pantai Rening sekarang, begitu ucapnya di telepon." karena sebenarnya kami sudah berencana sejak lama untuk mengajak buah hati weekend di pantai. mau ke pantai Sanur, Kuta, Nusa Dua, atau pantai Pandawa juga terlalu jauh harus ke Denpasar dulu. Al hasil kami ke lokasi yang dekat-dekat dulu saja deh, sabar ngumpulin petes haha.

Bali, Pulau Dewata dengan keragaman budaya, wisata dan kulinernya bahkan Bali menjadi pulau paling tersohor di Negeri Indonesia ini. Berbagai event penting dunia sering diadakan di Bali, artis-artis lokal maupun internasional menjadikan pulau Bali sebagai salah satu tempat untuk mendokumentasikan peristiwa penting mereka. Alasannya sangat sederhana, yaitu banyak tempat-tempat yang menyuguhkan panorama cantik, oleh-oleh yang unik, dan pantai yang menarik, betul tidak? wisatawan jauh-jauh berkunjung demi merk "Joger" yang hanya ada di Bali, hotel berbintang dengan pemandangan pantai yang wow SubhanAllah, menikmati kuliner ayam betutu yang khas, dan lain-lain.
Indahnya sunset di pantai rening
Secara Geografis, pulau Bali memang dikelilingi oleh lautan dan pantai sebagai pembatas dengan daratan, sungguh indah bukan? Setiap pantai tersebut memiliki nama sesuai dengan nama desa setempat, salah satunya adalah Pantai Rening yang terletak di Desa Rening-Kabupaten Jembrana-Bali. Pantai tersebut lokasinya dekat dengan tempat tinggal kami, hanya sekitar 15 menit mengendarai motor sudah sampai dan kita akan menyaksikan keindahan alam pantai, hamparan luas lautan menjadikan syukur tak terperi.

Memang pantai Rening tidak terlalu banyak dikenal di dunia wisata dibandingkan pantai Sanur atau pantai Kuta, karena letaknya yang jauh dari pusat kota Denpasar maupun kota Jembrana, namun keindahan pemandangan lautannya mampu menghilangkan penat diri atas segala rutinitas harian yang menyesakkan jiwa. Jika berkunjung ke sana paling ramai weekend dan sore hari, ada yang bermain voli pantai, sepak bola, berenang, bermain pasir, berenang, atau hanya duduk berbincang-bincang di sepanjang pagar beton yang baru dibangun.
bermain pasir

bermain voli pantai dan berenang
Keindahan sunset dengan warna kukning-orange sangat rugi jika tidak didokumentasikan, tidak kalah dengan sunset di pantai Kuta lho. Karena putri kami takut dengan air laut, maka kami hanya bermain pasir dan memandangi para pengunjung yang sedang asyik bermain serta berenang. Di dekat pantai ada beberapa warung yang menyediakan makanan dan minuman ringan, serta tempat penginapan, jadi tidak perlu khawatir jika lapar atau haus, namun bagi umat Islam jika ragu dengan kehalalannya bisa membawa bekal dari rumah saja, selain itu lebih irit.

Sama seperti pantai pada umumnya, pantai Rening dikelilingi lautan yang menghampar dengun gulungan ombak yang ringan diiringi hembusan angin yang sejuk di sore hari nan panas. Lautan yang mengubungkan dengan beberapa daerah di sepanjang Bali. Karena meningkatnya abrasi, jadi saat ini telah dibangun pagar beton di sekitar pantai sejak tahun 2013 lalu. Selain itu pengolahan tempat wisata pantai Rening masih kurang baik dan banyak sampah berserakan, sehingga ada beberapa Hotel yang akhirnya gulung tikar. Harapan ke depannya pantai Rening bisa dikelola seperti dulu supaya ramai dikunjungi oleh wisatawan lokal maupun internasional.

Bagi kami bertiga yang paling penting adalah kebersamaan dan gratisan lhoch eits  family time dan quality time mau pergi ke mana saja okey-okey saja tergantuk pak bos alias si ayah hihi.