Jumat, 27 November 2015

Hidup itu Pilihan, Keputusan, Tantangan, dan Selesaikan

Pernahkah anda berada pada posisi dimana anda sangat menyesal dan bersalah dengan keputusan yang telah diperbuat, rasanya ingin mengulang waktu kembali ya? apa yang anda rasakan, drop atau bangkit? kemudian bagaimana solusi agar bisa move on?

Pernahkah juga anda membaca dan mendengar para tokoh inspiratif, profil orang sukses pernah membuat keputusan diluar dugaan yang tidak pernah disesali, namun "disayangkan" kata orang lain.
"Masa lalu adalah pelajaran, saat ini adalah ikhtiar, dan masa depan adalah tantangan"
Menyesal memang pernah saya rasakan, namun bukan berarti selamanya menjadikan hati kelam. saya tahu resiko dari apa yang diputuskan dan solusinya harus dijalani dan berproses untuk membuktikan bahwa keputusan saya memang benar.

Pernah dulu waktu saya memutuskan untuk keluar dari Universitas Negeri ternama di Malang, keluarga shock, teman-teman bingung, tetangga juga ikut nimbrung kepo dengan keputusan saya pindah ke Swasta "emane masuk negeri sudah susah, biaya murah, malah pindah ke Swasta yang kebalikannya". seperti disidang dalam pengadilan keluarga, sayapun tetap kekeuh ingin pindah. dalam hati, saya yakin akan keputusan tersebut. saat masa sulit saya adalah pulang kampung dan selalu disindir kalau....andai...dan jika, penyesalan tampak dari mimik wajah beliau. namun saya bertekad membuktikan bahwa saya benar. Alhamdulillah dalam perjalanan akademik di Universitas nilai dan prestasi senantiasa mengiringi hingga kelulusanku.

Allahlah yang memegang kendali saya, pasti ada hikmah dari semuanya. belum tentu saat kuliah di Negeri saya bisa mengenal dan memahami karya ilmiah, menjadi asisten laboratorium, dikenal dosen hinggi menjadi pembimbing anaknya, bahkan menemukan jodoh hahay.

Kemudian keputusan kedua, saya ingin berkarir di Malang, namun orangtua meminta kembali ke rumah. watak keras saya akhirnya bisa dimengerti dan memang saya bisa membuktikan bahwa saya bisa survive dan menabung dari uang guru kontrak dan mengajar privat, memperoleh banyak keluarga baru, dan have fun bersama anak-anak SD.

Keputusan berikutnya adalah menikah dan menjadi guru kontrak di pedalaman. keputusan mengikuti suami ke Papua Barat menuai pro dan kontra terutama dari pihak keluarga saya, namun saya tetap menjalani dan menunjukkan bahwa kami baik-baik saja di sana. banyak pengalaman dan pembelajaran tentang syukur kami dapatkan di sana. kami bisa bertahan dan Alhamdulillah hamil hingga pulang kampung untuk melahirkan terasa lancar. desakan orangtua saya untuk tidak kembali ke Papua akhirnya meluluhkan suami dan saya tinggal di Mertuaa-Bali.

terpisah jauh dengan suami ternyata memberikan hikmah bagi saya tentang arti kebersamaan, selain itu saya bisa mengikuti pelatihan blog dan mengenal dunia blog sampai sekarang.

Keputusan yang baru-baru ni saya buat adalah memulai dari nol di tanah Bali. belajar mandiri dari nol di tanah bali, akhirnya suami memtuskan untuk tetap tinggal dan mengabaikan mimpinya menjadi guru disini. karena penuhnya guru IPA dan sedikitnya honor guru menjadikan suami harus berpindah haluan demi anak dan istri. salut dengan keberanian dan keikhlasannya, saya tahu ada gejolak di jiwa saat harapan dan impiannya belum terwujud. namun, saya yakin ada jalan di depan yang akan mengantarkan kami kepada kesuksesan.

kami harus sabar, setitik demi setitik suatu saat akan membentuk sebuah garis yang terhubungkan oleh semangat ikhtiar, do'a, dan kesabaran. rasa syukur ketika kami bisa berkumpul bertiga dan saat ini mengontrak rumah untuk melatih kemandirian, melihat perkembangan Faiza yang semakin pintar bersama-sama sungguh menjadi kebahagiaan tersendiri.

Dalam waktu berikutnya, kita akan melalui dengan keputusan-keputusan berikutnya yang akan menuai kritik, tangis, dan perjuangan. selanjutnya siapa yang paling kuat dialah yang lulus.

Pendaki yang sampai ke puncak hanyalah yang tangguh, pejuang yang sampai ke kesuksesan hanyalah yang sabar. kita diberi pilihan menjadi manusia yang mudah rapuh oleh tantangan atau justru menghebat seiring hebatnya rintangan . Percayalah, badai selalu menyisakan pohon yang terkuat, By: Ahmad Rifai Rif'an




Tidak ada komentar: