Jumat, 27 November 2015

Review Novel Sarvatraesa, Sang Petualang: Perjuangan Cinta dan Cita-cita dalam keikhlasan

cover By: goodreads
Keterangan: 

Judul                       : Sarvatraesa, Sang Petualang
Penulis                    : Dian Nafi
Penerbit                  : Diandra Pustaka Indonesia
Tahun Terbit         : November, 2013
Jumlah Halaman   : 158 halaman

Sinopsis:


Tidak ada yang lebih mengganggu daripada rasa kepenasaran.
Tidak ada yang lebih melukai ketimbang rasa dikhianati setelah memberi kepercayaan. Tidak ada yang lebih ditunggu kecuali balasan rasa cinta yang telah penuh diberikan dan membutuhkan setidaknya penerimaan.

Sarvatraesa. Dia yang berasal dari keluarga sederhana, merasa tertohok harga dirinya ketika keluarga sang profesor mengungkit kembali latar belakangnya. Meskipun benar Sarva tampan dan cerdas, dia bukanlah siapa-siapa jika bukan keluarga sang profesor yang mengangkat derajatnya.

Dia berusaha mencari kehormatan bagi dirinya sendiri dengan melepaskan bayang-bayang mertuanya. Dia pergi ke Aceh, juga ke Ambon. Mengabdikan diri sebagai dokter tentara di daerah yang penuh silang sengkarut itu. Istri dan anaknya di Jakarta sesekali ditengoknya.

Di Aceh maupun di Ambon, Sarvatraesa terlibat cinta dengan perempuan lain. Davina meradang dan berharap jika Sarva hendak menikah lagi, dia rela berbagi tetapi hanya dengan Mayana. Karena Davina tahu Mayanalah cinta pertama Sarvatraesa dan saat ini sudah menjanda. Yang menghabiskan seluruh rasa lelaki itu sehingga tak bersisa untuk siapapun, kecuali petualangan-petualangan. namun, Mayana menolak permintaannya.

Review:
Sebelumnya saya berterimakasih kepada mbak Dian Nafi atas pemberian buku "Sarvatraesa" ini dan kesempatan mereviewnya. pertama kali mendapat hadiah ini, jujur saya kurang suka cover bukunya yang gelap, apakah karena faktor alur ceritanya yang menunjukkan petualangan Sarvatraesa tentang cinta dan harga diri yang dilingkupi perjuangan berada di daerah konflik ya?

Namun, judulnya yang unik membuat saya penasaran untuk membuka lembar demi lembar isi novel ini. boleh tahu mbak untuk nama Sarvatraesa, idenya terinsiprasi dari mana kah? 

Novel ini menceritakan tentang perjuangan Sarva untuk mendapatkan cinta pertamanya sejak Sekolah Menengah, Mayana. seorang gadis pintar dan kaya yang ada di kampung tempat Sarva tinggal. awalnya hanya cinta untuk mendompleng kekayaan namun, karena sifat apik yang berujung penasaran dari Mayana menjadikan cinta Sarva berubah menjadi cinta yang tulus dan suci.

Namun, Mayana selalu menolak cinta Sarva hingga Sarva membuat keputusan besar untuk menikahi Davina tanpa cinta. dia merasa dikhianati dan ingin membalas dendam kepada Mayana. dia ingin menunjukkan bahwa dia adalah lelaki yang layak dijadikan primadona baik karena sifat maupun prestasinya.

Di tengah perjalanan kesuksesannya hadir konflik dengan mertua dan gejolak hatinya yang selalu mengingat Mayana. akhirnya Sarva memutuskan untuk menenangkan diri, mencari jati diri, dan memperbaiki harga dirinya dengan cara melakukan petualangan dan perjuangan sebagai dokter di daerah konflik Aceh dan Ambon. Dia mengabdi dengan tulus ikhlas, banyak yang senang dengan kepribadiannya menolong korban baik kesehatan maupun pendidikan anak-anak pengungsian. kecewanya, diapun terjerat dalam cinta semu, dia mempermainkan banyak wanita yang semuanya bisa dia dapatkan, kecuali seseorang, Mayana.

Hingga kejenuhannya mulai memuncak, dia stress karena Mayana, dia tahu Mayana menjanda dan ingin mendekatinya kembali. namun, Mayana menolak, bahkan ketika , Davina sang istri yang memintanya.

Endingnya bahagia, saya suka karena akhirnya hubungan Sarva dengan Davina, Ayah mertua, dan Mayana membaik dan cita-cita Sarva untuk mendirikan Rumah Sakit juga tercapai. pada akhirnya Sarva menyadari bahwa tiada yang lebih indah selain berkumpul dengan anak dan istrinya, serta cinta tidak harus memiliki namun sebagai kenangan manis dalam hati sebagai penguat diri dalam kesetiaan terhadap pasangan.

Dalam novel ini banyak terdapat filosofi dan kalimat-kalimat filsafat karena Sarvatraesa dikenal sebagai lelaki cerdas yang mampu berdiplomasi dan berdialeg menggunakan ungkapan-ungkapan yang diucapkan. selain itu, penulis bisa menghadirkan alur yang apik sehingga pembaca ingin segera menamatkan lembar demi lembar novel tersebut.

Beberapa kutipan yang saya suka adalah:
"Kalau menyayangi karena kebaikannya dan melupakan karena keburukannya, itu namanya pamrih. kalau menyayangi yang baik tapi menepis yang tidak baik, itu pilih kasih namanya"
 "Mari kita berbagi dengan yang sedikit, dengan berbagi maka semua akan terasa lebih baik dan bermanfaat bagi orang lain selain itu dengan berbagi akan mengurangi keslahpahaman"
"putusnya aku dan dia ibarat nun mati bertemu ha' yang disebut dengan idhar, artinya bisa dibaca terpisah dan jelas"
"Ketika kamu kuat dalam kesenangan namanya syukur, tapi kalau kamu kuat dalam derita itu namanya sabar"

Selamat membaca ya readers...... sekian dulu reviewnya ^_^




Tidak ada komentar: