Selasa, 09 Februari 2016

Hikmah Menikah dengan Sahabat

One Forever
Setiap manusia pasti memiliki kisah romansanya masing-masing sebelum menemukan labuhan hati, ciyeee *_*. 

Tidak sedikit yang berjodoh dengan pasangan yang tidak disangka-sangka. jauh-jauh keliling dunia eh jodohnya tetangga sebelah, ada yang dari benci menjadi benar-benar cinta, ada yang sahabat jadi jodoh, ada juga yang melalui khitbah Islami, dan lain-lain. Nah, readers termasuk yang mana ya?

Kalau saya termasuk yang benci jadi benar-benar cinta plus sahabat jadi jodoh, asyik. Saya dan suami bertemu di Kampus Putih dengan Fakultas, Jurusan, dan Kelas yang sama. Setiap hari bertemu dan bersua membuat kami menjadi dekat, namun awalnya saya benci sekali karena dia seorang ketua tingkat yang "Sok" bergaya ala militer, maklum calon taruna. kemudian lama-lama jadi sahabat bersama teman-teman perempuan saya. seperti pepatah mengatakan "witing tresno jalaran soko kulino", saya termasuk tipe wanita yang jatuh cinta karena melihat kepribadiannya sehari-hari serta kenyamanan saat bersama.

Bersama Sahabat tahun 2008
Setelah 5 tahun saling mengenal, kami memutuskan untuk melanjutkan hubungan ke jenjang pernikahan, banyak pula cerita tak terlupakan sebelum akhirnya kami halal satu sama lain. akhirnya sahabat jadi jodoh, dan kebencian masa lalu luruh saat dia membantu saya penelitian hingga mengabaikan penelitian miliknya sendiri, kasihaan ya.

Tadi pagi saya menyaksikan acara Curahan Hati Perempuan yang dibawakan oleh Maudy Koesnaedi, dan Oki Setiana Dewi, kebetulan temanya tentang "sahabat lama menjadi jodoh". Pas sekali dengan yang saya alami, meskipun tidak selama penantian Dito terhadap Ayudia Bing Slamet selama 12 tahun mengamati dan mempelajari hingga memiliki pada akhirnya.

Menurut Ustadzah Oki, menikah dengan sahabat sendiri itu memiliki beberapa hikmah ya, diantaranya:

Pertama, sudah mengetahui kekurangan dan kelebihan masing-masing. Hubungan persahabatan biasanya lebih santai, terbuka, dan lepas daripada hubungan menjadi seorang kekasih yang lebih didominasi sifat "jaim" saling sungkan dan menunjukkan kebaikan-kebaikan saja, sehingga pada akhirnya saat mengetahui kejelekannya semakin menjauh tanpa adanya pengertian satu sama lain.

Kedua, lebih saling pengertian. karena sudah lama terbiasa bersama menjalani suka duka, marah dan ceria, sehingga bisa lebih saling memahami dan menutupi kekurangan masing-masing, sudah lama mempelajari karakter pasangannya. seperti kisah Fatimah ra. dengan Ali Bin Abi Thalib as. dimana Ali memendam rasa sejak kecil hingga saat dewasa baru berani mengungkapkan kepada Rasulullah untuk mengkhitbah putri beliau.

Our Wedding Party
Nah, bagaimanapun cara reader bertemu jodoh dan dengan siapa berjodoh, semuanya adalah misteri yang tak terlupakan dan menjadi cerita abadi kelak. yang terpenting adalah sama-sama saling memperbaiki, pasti kan ada hikmah dalam setiap peristiwa. semoga yang belum punya jodoh segera menemukan, dan yang sudah berjodoh semoga satu untuk selamanya, Amin ^_^



2 komentar:

golongan darah katalogibu.com mengatakan...

cie sahabat jadi cinta

Zaqia Nur Fajarini mengatakan...

hahahay...iyaaa gak jauh2 ternyata