Senin, 06 November 2017

Puzzle Kehidupan Pengejar Mimpi (Review Novel "Mengejar-Ngejar Mimpi" )

Cover Buku
Identitas Buku:
Judul Buku : Mengejar-Ngejar Mimpi
Penulis        : Dedi Padiku
Penerbit      : Asma Nadia Publishing House (ANPH)
Jumlah Hal : xii/324
Cetakan Pertama : Mei 2014
ISBN             : 978-602-9055-24-5
                        978-602-9055-17-7


"Saat ini aku memang tidak berarti apa-apa. Tapi lihatlah berapa tahun ke depan, aku akan buktikan bahwa aku bisa sukses seperti yang lain"
Hari ini pengennya mereview buku setelah sekian lama. Memang bukunya pinjam kawan, tapi sangat disayangkan kalau tidak diulas kembali, karena menurut saya buku ini rekomendasi banget bagi pecinta buku inspiratif.

Kutipan di atas menjadi salah satu ungkapan hati Mohamad Febri Padiku atau lebih akrab dipanggil Dedi Padiku. Sentilan pahitnya hidup sebatang kara karena ditinggal oleh keluarganya entah ke mana, menjadi sasaran bully, ditinggal cewek, dan begitu banyaknya batu sandungan hingga hampir merenggut nyawnya, menjadikan dia sosok tangguh dalam menggapai impiannya.

Terkadang banyaknya ujian hiduplah yang bisa menjadikan seseorang itu pribadi yang dewasa dan bijak dalam menghadapi tantangan, dan menjadikan tekad diri untuk bangkit dari mendung menuju secercah cahaya.

Novel ini mengisahkan perjalanan hidup seorang pemuda mandiri yang ditinggal keluarganya. Kisahnya dibagi dalam beberapa subbab.  Bagian pertama mengisahkan perjuangan pada saat masih duduk di bangku SMA, kemudian berlanjut pada saat mengejar mimpi menjadi karyawan di Jepang, dan mengadu nasib menjadi seorang penulis di Jakarta.

Saya salut sekali dengan alur cerita dalam novel ini, seperti drama yang setiap orang tidak akan menyangka berbagai peristiwa tersebut dialami oleh satu orang dan nyata adanya. Kalimat-kalimatnya dikemas apik, mengalir, dan ada sisi humornya. Tidak perlu waktu lama untuk menamatkan lembaran-lembaran kisah hidup Kak Dedi ini.

Diawali dengan kejadian kocak saat penerimaan siswa baru yang mana kak Dedi mendapatkan berbagai hukuman memalukan dan berujung mempertemukannya dengan cinta pertama bernama Iyen. Kisah romantiknya lumayan bikin baperlah karena ada kisah cinta segitiga yang berujung pengorbanan kak Dedi untuk melepasnya demi sahabat karena
Cinta tak harus memiliki (ikhlas tapi tak rela), ciye. Tadinya saya pikir Happy ending bersama Iyen tapi ternyata jodoh berbicara lain.

Kisah kocak yang lain adalah ketika kak Dedi mengikuti seleksi penerimaan karyawan di Jepang, impian utamanya sejak masuk SMK karena terinspirasi dari tetangganya yang bekerja di sana, selin itu kegemarannya terhadap elektronika menjadikan dia candu. Berbagai tes dilalui dengan mudah, dan betapa hancurnya hati ketika mimpi itu gagal hanya karena 2 cm. Iya hanya karena tingginya kurang 2 cm meluluhlantahkan perjuangan usahanya dalam belajar dan berlatih fisik. Sampai nekadnya dia membenturkan kepalanya ke tembok berharap tinggi badannya akan bertambah, namun apa daya itu semua hanya ada dalam film kartun saja😄.

"Pantang pulang kampung sebelum menjadi orang sukses" begitu tekadnya hingga dia memutuskan untuk hijrah ke Jakarta demi impian menjadi penulis. Namun apa kata, pekerjaan menjadi supir dan kuli bangunan selalu mengiringinya bagai bayangan hingga sebuah peluang besar datang, yaitu ketika mengikuti workshop yang diadakan penulis Asma Nadia.

Hidup bagaikan puzzle yang berserakan di bumi Menunggu untuk ditemukan. Begitu banyak kepingan puzzle yang telah kulalui. Ada haru, malu, tawa, sedih, bahkan hampir merenggut nyawaku, hingga tetesan darah keluar dari tubuh. 

Buku ini cocok sebagai motivasi diri yang berada dalam keterbatasan supaya bisa bangkit dan berjuang, berfikir bahwa orang lain lebih berat ujiannya daripada yabg menimpa kita. Setiap orang berjuang dengan ujiannya masing-masing, dan yg bertahan adalah orang yang sabar dan berujung bahagia.

Buku ini menjadi buku pertama karangan kak Dedi yang saya baca, covernya sederhana dengan langkah kaki penulis mengejar mimpi yang digambarkan gedung-gedung pencakar langit di Jakarta. Penerbitnya tidak diragukan lagi, karena saya juga sebagai penggemar penulis Asma Nadia jaei tak diragukan lagi kualitas karyanya.  Jempol buat kak Dedi semoga semakin banyak karya terbarunya yang bisa membangkitkan semangat.



3 komentar:

Nur Azizah Perwitasari mengatakan...

Siip ki.. aku juga mau deh mereview buku2 yang ku baca tapi apa daya selain belum tau cara mereview aku juga kurang PD (masih malu2) hehe

Wes sukses sukses buat kamu

Zaqia Nur Fajarini mengatakan...

Aq juga abal2 neng azizah blm bsa review yg bagus...yg penting nulis ja di pede pedein neng... 😊

Zaqia Nur Fajarini mengatakan...

Aq juga abal2 neng azizah blm bsa review yg bagus...yg penting nulis ja di pede pedein neng... 😊